Ketika counsel, yaitu arahan dan strategi Sang Raja, telah menjadi jelas dan teruji, HUIOS tidak boleh terus membiarkan pertanyaan “bagaimana jika gagal?” mengambil alih takhta keputusan, sebab iman Alkitabiah bukan penyangkalan terhadap fakta, melainkan penolakan untuk menjadikan fakta sebagai otoritas yang lebih tinggi daripada Firman Allah. Roma 4 menggambarkan Abraham sebagai orang yang melihat keterbatasan natural tetapi tetap menjadi plērophoreō (πληροφορέω), yaitu diyakinkan sepenuhnya bahwa Allah sanggup melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya, sedangkan Ibrani 11:1 memakai kata hypostasis (ὑπόστασις), yaitu kepastian atau dasar keyakinan terhadap apa yang diharapkan. Karena itu, faith atau iman bukan keberanian sembrono yang melakukan keinginan pribadi lalu meminta Tuhan mendukungnya, tetapi keyakinan yang lahir setelah counsel diterima, diuji, dan dikenali sebagai kehendak Sang Raja; dari sinilah faith harus bergerak menjadi obedience atau ketaatan, sebab Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa ergon (ἔργον), yaitu tindakan nyata, adalah mati. Inilah DNA REIGN: kita menguji dengan hikmat, membaca fakta dengan jernih, menghitung risiko dengan bertanggung jawab, tetapi setelah Sang Raja memberikan arah, kita tidak menyerahkan assignment kepada ketakutan; kita bergerak dengan keberanian, membangun dengan ketekunan, dan mempercayakan wilayah yang tidak dapat kita kerjakan kepada Spirit of Might, sampai Open Heaven tidak berhenti sebagai pewahyuan tetapi memperoleh tubuh melalui HUIOS yang membangun Dimensi Zion dan menghadirkan Kingdom Civilization di bumi.
“Ketika counsel Sang Raja telah menjadi jelas, HUIOS berhenti berunding dengan ketidakmungkinan; ia menguji dengan hikmat, percaya dengan kokoh, menaati dengan berani, dan membiarkan Spirit of Might menggenapi apa yang tidak sanggup dilakukan manusia.”
Salam Kegerakan!
PS. SAMUEL MULYONO

Leave a Reply