Memposisikan Diri secara Tepat

MEMPOSISIKAN DIRI SECARA TEPAT
Menjadi Akurat, Bukan Sekadar Relevan
Salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan adalah belajar menjadi tepat, bukan hanya terlihat relevan. Relevansi memang penting karena menolong kita memahami bahasa zaman, membaca kebutuhan manusia, membangun jembatan relasi, dan berkomunikasi secara efektif di tengah dunia sosial maupun profesional. Namun relevansi tidak boleh menjadi tujuan akhir. Seseorang dapat sangat relevan terhadap zamannya tetapi justru kehilangan ketepatan terhadap kehendak Tuhan. Karena itu, ukuran kehidupan Kerajaan bukan pertama-tama seberapa mudah kita diterima oleh lingkungan, melainkan seberapa akurat kita berada di dalam maksud Sang Raja.
Menjadi garam dan terang merupakan gambaran yang sangat jelas mengenai prinsip ini. Garam dan terang selalu hadir untuk membawa sesuatu yang belum ada sebelumnya. Terang memberikan arah ketika kegelapan membuat manusia kehilangan orientasi, sedangkan garam memberi rasa, menjaga, dan memengaruhi sesuatu yang disentuhnya. Keduanya mempunyai fungsi karena keduanya berbeda dari lingkungan yang sedang mereka pengaruhi. Orang percaya karena itu tidak dipanggil untuk sekadar mengikuti perubahan dunia supaya tetap dianggap relevan, tetapi untuk memahami perubahan dunia tanpa kehilangan karakter, nilai, dan tujuan Kerajaan sehingga keberadaannya menjadi jawaban terhadap kebutuhan zaman.
Yesus berkata dalam Matius 3:12:
“Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”
Istilah yang diterjemahkan sebagai “debu jerami” menunjuk kepada chaff, yaitu sekam atau bagian luar yang menyertai bulir selama proses pertumbuhan, tetapi tidak menjadi isi utama yang akhirnya dikumpulkan sebagai hasil panen. Gambaran ini memberi kita sebuah prinsip penting: sesuatu dapat berguna pada satu fase, tetapi kehilangan fungsi ketika tujuan akhirnya telah tercapai.
Sekam mempunyai fungsi selama proses pembentukan bulir, tetapi sekam bukanlah hasil akhir. Demikian pula dalam kehidupan, sebuah metode, relasi, struktur, posisi, pengalaman, bahkan pola pelayanan dapat mempunyai fungsi pada satu musim, tetapi tidak berarti semuanya harus dibawa selamanya. Ketepatan menuntut kita memahami apa yang masih melayani tujuan Tuhan dan apa yang hanya merupakan bagian dari musim yang telah selesai.
Di sinilah perbedaan antara relevansi dan akurasi menjadi sangat penting.
Relevansi bertanya, “Apa yang sedang terjadi?”
Akurasi bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki di tengah apa yang sedang terjadi?”
Relevansi melihat kebutuhan zaman. Akurasi memahami respons yang sesuai dengan tujuan Tuhan.
Relevansi menolong kita masuk ke dalam percakapan. Akurasi memastikan bahwa setelah kita masuk, kita tetap membawa kebenaran.
Karena itu, menjadi tidak tepat bukan sekadar persoalan kurang efektif. Dalam konteks penugasan Tuhan, ketidaktepatan dapat menjadi bentuk ketidaktaatan karena kita bergerak di luar maksud yang sebenarnya ingin Ia kerjakan. Kehidupan Kerajaan membutuhkan lebih daripada semangat, kreativitas, atau kemampuan mengikuti perkembangan zaman; kehidupan Kerajaan membutuhkan alignment, yaitu keselarasan dengan kehendak Sang Raja.
MENJADI ORANG YANG TEPAT
Perjalanan menuju ketepatan harus dimulai dari pribadi kita sendiri.
Ada satu pernyataan yang harus menjadi fondasi cara berpikir kita:
Saudara bukan sebuah kebetulan, dan keberadaan Saudara pada generasi ini juga bukan sebuah kebetulan.
Saudara berada di dunia karena kehendak Tuhan, dan keberadaan Saudara membawa tujuan yang harus ditemukan, dibangun, dan dijalankan. Karena itu, menjadi orang yang tepat berarti menemukan maksud Tuhan bagi kehidupan kita, lalu membiarkan seluruh kehidupan bergerak semakin selaras dengan maksud tersebut.
Kita tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai tujuan; kita membutuhkan hubungan dengan Pribadi yang mempunyai tujuan tersebut.
Tujuan Tuhan tidak pertama-tama ditemukan melalui ambisi, tren, atau perbandingan dengan perjalanan orang lain. Tujuan ditemukan melalui hubungan dengan Tuhan, sebab hanya Sang Pencipta yang mengetahui mengapa ciptaan-Nya dibentuk. Itulah sebabnya kehidupan yang tepat selalu dibangun di atas hubungan yang hidup dengan Yesus Kristus.
Semakin dekat kita berjalan dengan Tuhan, semakin kita bukan hanya mengetahui apa yang Ia kehendaki, tetapi juga mulai mengambil nilai, sikap, karakter, cara berpikir, dan cara merespons yang berasal dari-Nya.
Paulus menulis dalam Filipi 2:5: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
Menjadi orang yang tepat karena itu bukan hanya masalah berada pada pekerjaan yang tepat atau mempunyai pelayanan yang tepat. Menjadi orang yang tepat adalah menjadi jenis manusia yang sesuai dengan tanggung jawab yang Tuhan percayakan.
Bayangkan seseorang ditempatkan pada sebuah posisi penting dalam suatu perusahaan. Posisi tersebut mungkin benar-benar merupakan kesempatan yang tepat, tetapi apabila orang itu malas, tidak bertanggung jawab, tidak dapat dipercaya, sulit bekerja sama, atau tidak mempunyai kompetensi yang diperlukan, maka posisi yang tepat berada di tangan orang yang belum tepat.
Akibatnya dapat diperkirakan: kepercayaan berkurang, respek hilang, produktivitas menurun, bahkan akhirnya posisi tersebut dapat hilang.
Ini memperlihatkan sebuah prinsip:
Posisi tidak dapat mempertahankan seseorang yang karakternya belum sesuai dengan bobot posisi tersebut.
Karena itu, jangan hanya berdoa supaya Tuhan membawa Saudara kepada posisi yang lebih besar. Mintalah supaya Tuhan membentuk Saudara menjadi pribadi yang cukup dewasa untuk membawa posisi itu dengan benar.
Orang yang tepat adalah orang yang karakter, kapasitas, sikap, dan hidupnya semakin sesuai dengan penugasan yang diterimanya.
MENJADI ORANG YANG BERADA DI TEMPAT YANG TEPAT
Bukan hanya siapa kita yang penting; di mana kita ditempatkan juga sangat menentukan.
Tempat di mana Saudara berada hari ini tidak selalu merupakan kebetulan. Tuhan dapat memakai sebuah lingkungan untuk dua pekerjaan sekaligus: melalui Saudara Ia memberkati lingkungan tersebut, dan melalui lingkungan tersebut Ia membentuk Saudara.
Tempat kita berada dapat membentuk bahasa, kemampuan, perspektif, ketahanan, pengalaman, jaringan relasi, bahkan cara kita memahami kebutuhan manusia. Banyak unsur yang pada awalnya tampak seperti bagian biasa dari kehidupan ternyata sedang dipakai Tuhan untuk membangun kapasitas tertentu yang diperlukan bagi penugasan masa depan.
Yohanes Pembaptis memberikan gambaran yang kuat mengenai prinsip tersebut.
Markus 1:3–5 berbicara mengenai: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”
Yohanes muncul bukan di pusat politik Yerusalem, bukan di dalam sistem keagamaan yang mapan, melainkan di padang gurun. Namun padang gurun yang secara manusia terlihat tidak strategis ternyata menjadi tempat yang tepat bagi penugasannya.
Dan karena ia berada di tempat yang benar dengan pesan yang benar pada waktu yang benar, orang-orang justru datang kepadanya.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa tempat yang tepat tidak selalu berarti tempat yang paling nyaman, paling besar, paling populer, atau paling menguntungkan.
Tempat yang tepat adalah tempat di mana penugasan Tuhan dapat memperoleh fungsi yang tepat melalui kehidupan kita.
Berada di tempat yang tepat sangat berhubungan dengan produktivitas. Sebuah benih yang sehat tetap membutuhkan tanah yang sesuai supaya potensinya berkembang. Demikian pula manusia.
Namun “tempat” tidak hanya berbicara mengenai lokasi geografis. Tempat juga berbicara mengenai posisi kita terhadap kehendak Allah.
Saudara dapat berada di kota yang benar tetapi mempunyai motivasi yang salah. Saudara dapat berada di organisasi yang benar tetapi bergerak di luar penugasan. Saudara dapat berada di pelayanan yang benar tetapi mempunyai posisi hati yang keliru.
Sebaliknya, Saudara dapat berada di lingkungan yang sederhana, tersembunyi, bahkan sulit, tetapi apabila Tuhan memang sedang membentuk dan menempatkan Saudara di sana, tempat tersebut dapat menjadi lokasi yang sangat strategis bagi masa depan Saudara.
Daud belajar memerintah bangsa ketika ia masih menggembalakan beberapa ekor domba.
Yusuf sedang dibentuk untuk mengelola Mesir ketika kehidupannya tampak terjebak dalam penjara.
Musa sedang dipersiapkan menghadapi Firaun ketika empat puluh tahun hidupnya berlangsung di padang gurun.
Karena itu, jangan menilai tempat hanya dari penampilan luarnya. Tanyakan:
“Apakah tempat ini sedang menjadi bagian dari proses dan penugasan Tuhan dalam hidupku?”
MENJADI ORANG YANG BERADA PADA WAKTU YANG TEPAT
Ketepatan berikutnya berbicara mengenai waktu.
Ada orang yang benar, berada pada tempat yang benar, tetapi mengambil tindakan pada waktu yang salah. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya baik dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak tepat.
Karena itu, kedewasaan Kerajaan membutuhkan kemampuan memahami timing, yaitu ketepatan waktu Tuhan.
1 Tawarikh 12:32 berbicara mengenai bani Isakhar sebagai: “orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik, sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel.”
Perhatikan hubungan antara dua hal tersebut: mereka memahami waktu, sehingga mereka mengetahui tindakan yang tepat. Dengan kata lain, pengenalan terhadap musim menentukan kualitas keputusan.
Mengetahui apa yang benar belum cukup. Kita juga perlu memahami kapan sesuatu harus dilakukan, bagaimana harus dilakukan, dan dengan respons seperti apa kita harus melakukannya.
Orang yang memahami waktu tidak hidup secara reaktif. Ia tidak sekadar merespons tekanan, tren, ketakutan, atau emosi sesaat. Ia belajar membaca musim, mengenali kesempatan, menilai perubahan, serta memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan.
Ada moments, yaitu momen-momen tertentu, yang mempunyai potensi jauh lebih besar daripada yang terlihat secara kasatmata. Secara lahiriah mungkin tampak seperti percakapan biasa, pertemuan biasa, pekerjaan biasa, keputusan sederhana, atau kesempatan kecil. Tetapi ketika Tuhan terlibat di dalamnya, momen tersebut dapat menjadi titik perubahan yang menentukan arah tahun-tahun berikutnya.
Karena itu, ada tiga pertanyaan yang layak kita tanyakan kepada diri sendiri.
1. Bagaimana jika momen di depan Saudara adalah momen yang dapat mengubah seluruh arah kehidupan Saudara?
Bagaimana Saudara akan mempersiapkan diri jika mengetahui bahwa satu percakapan, satu keputusan, satu perjumpaan, atau satu tindakan ketaatan dapat membuka sebuah perjalanan yang sama sekali baru?
Apakah Saudara cukup siap untuk mengenalinya?
2. Bagaimana jika Tuhan ingin berjumpa dengan Saudara melalui cara yang berbeda dari pola yang selama ini Saudara kenal?
Apakah Saudara cukup peka untuk melihatnya?
Atau jangan-jangan kita begitu terikat dengan cara lama sehingga melewatkan apa yang sedang Tuhan kerjakan karena bentuknya tidak sesuai ekspektasi kita?
3. Bagaimana jika keputusan yang Saudara ambil dalam satu momen tertentu sedang menciptakan momentum masa depan?
Keputusan kecil dapat mempunyai dampak besar apabila keputusan itu berada pada titik strategis sebuah musim.
Karena itu, jangan menganggap remeh momen yang Tuhan berikan.
Momen tersedia seperti bintang di langit dan pasir di laut. Sebagian besar terlihat biasa. Namun di antara momen-momen yang biasa tersebut dapat tersembunyi kesempatan luar biasa.
Ada mujizat yang terkadang dibungkus dalam momen yang terlihat sangat biasa.

MEMAHAMI MUSIM KEHIDUPAN
Pengkhotbah 3:1 berkata: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Dan ayat 11 mengatakan: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”
Kehidupan tidak dapat dipisahkan dari musim. Ada musim menanam dan musim menuai. Ada musim membangun dan musim memangkas. Ada musim terlihat dan musim tersembunyi. Ada musim memulai dan musim menyelesaikan. Ada musim bertahan dan ada musim bergerak. Ada musim menerima dan musim melepaskan. Setiap musim mempunyai pekerjaan yang berbeda. Masalahnya, kita sering ingin melakukan pekerjaan dari musim lain. Ketika Tuhan sedang membangun akar, kita ingin memperlihatkan buah. Ketika waktunya belajar, kita ingin memimpin. Ketika waktunya membangun, kita ingin menikmati hasil. Ketika waktunya melepaskan, kita justru mempertahankan sesuatu yang sudah selesai. Karena itu: Kegagalan banyak orang bukan karena mereka tidak mempunyai potensi, tetapi karena mereka memberikan respons yang salah terhadap musim yang sedang mereka jalani.
Pengenalan terhadap musim memberi kita tiga hal yang sangat penting: antisipasi, pengharapan, dan persiapan.
MENGAPA KITA HARUS MENGENALI MUSIM YANG TEPAT?
1. Musim adalah ruang pertumbuhan dan pendewasaan
Setiap musim membawa pelajaran yang berbeda. Bahkan musim yang sulit dapat menjadi ruang tempat karakter, ketekunan, hikmat, dan kedalaman dibangun. Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Itu tidak berarti setiap proses selalu terasa menyenangkan, tetapi berarti Tuhan dapat menghasilkan keindahan dari proses yang kita jalani apabila kita meresponsnya dengan benar. Jangan hanya bertanya: “Kapan musim ini selesai?” Belajarlah bertanya: “Apa yang harus terbentuk di dalam diriku sebelum musim ini selesai?”
2. Mengetahui musim memberikan kekuatan menghadapi tekanan
Kesulitan terasa jauh lebih berat ketika kita tidak memahami mengapa kita menghadapinya. Tetapi ketika kita mengetahui bahwa sebuah proses sedang mempunyai fungsi tertentu, pengharapan mulai muncul. Seorang petani tidak panik ketika tanah belum menghasilkan buah beberapa hari setelah benih ditanam, sebab ia memahami musim. Demikian pula manusia Kerajaan. Pengenalan musim membuat kita mampu bertahan tanpa kehilangan arah.
3. Musim yang tepat adalah musim produktivitas yang tepat
Setiap musim membawa jenis buah yang berbeda. Ada musim ketika produktivitas berarti memperbesar sesuatu. Ada musim ketika produktivitas berarti menyederhanakan. Ada musim ketika produktivitas berarti belajar. Ada musim ketika produktivitas berarti membangun tim. Ada musim ketika produktivitas berarti menyelesaikan sesuatu yang sudah lama tertunda. Karena itu, produktivitas Kerajaan bukan sekadar melakukan lebih banyak.
Produktivitas Kerajaan adalah menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkan pada musim yang sedang Tuhan tetapkan.

ORANG YANG TEPAT + TEMPAT YANG TEPAT + WAKTU YANG TEPAT
Pada akhirnya, ketepatan hidup dapat diringkas dalam tiga pertanyaan besar:
Apakah saya sedang menjadi orang yang tepat? Apakah karakter, kapasitas, cara berpikir, dan kehidupan saya sesuai dengan apa yang Tuhan percayakan?
Apakah saya sedang berada di tempat yang tepat? Apakah posisi, lingkungan, hubungan, dan wilayah penugasan saya selaras dengan agenda Tuhan?
Apakah saya sedang memahami waktu yang tepat? Apakah saya mengetahui musim yang sedang berlangsung dan respons apa yang Tuhan inginkan?
Ketika ketiganya mulai bertemu—orang yang tepat, tempat yang tepat, dan waktu yang tepat—kehidupan memasuki sebuah tingkat akurasi yang berbeda. Di sana kita tidak lagi sekadar mengejar kesempatan. Kita mengenali kesempatan yang berasal dari Tuhan. Kita tidak sekadar mengikuti perubahan. Kita memahami bagaimana harus merespons perubahan. Kita tidak sekadar ingin terlihat relevan. Kita menjadi akurat terhadap kehendak Sang Raja. Inilah arah yang harus kita bangun pada musim ini.
Mari memposisikan diri dengan benar. Jangan puas menjadi manusia yang sekadar relevan terhadap dunia, tetapi jadilah manusia yang tepat terhadap kehendak Tuhan, tepat dalam karakter, tepat dalam penugasan, tepat dalam lingkungan, tepat dalam respons, dan tepat dalam waktu. Pastikan seluruh produktivitas, pekerjaan, pelayanan, hubungan, dan keputusan kita semakin berada di bawah agenda-Nya. Sebab pada akhirnya, keberhasilan terbesar bukan ketika kita berhasil melakukan banyak hal, tetapi ketika kita dapat berkata:
“Aku berada di tempat yang Tuhan kehendaki, menjadi orang yang Tuhan kehendaki, melakukan apa yang Tuhan kehendaki, pada waktu yang Tuhan tetapkan.”
Jangan hanya menjadi relevan terhadap zaman. Jadilah akurat terhadap kehendak Tuhan, sebab orang yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, dapat mengubah sebuah generasi.
Salam Kegerakan!
His Servant,
PS. SAMUEL MULYONO
Leave a Reply