Nehemia: Pemimpin yang Tidak Menggunakan Jabatannya untuk Membebani Rakyat

Nehemia: Pemimpin yang Tidak Menggunakan Jabatannya untuk Membebani Rakyat
Teks Utama: Nehemia 5:14–19
Jabatan adalah Tanggung Jawab, Bukan Kesempatan untuk Memperkaya Diri
Nehemia bukan hanya seorang pemimpin yang berhasil membangun kembali tembok Yerusalem, tetapi juga seorang gubernur yang memperhatikan kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Dalam Nehemia 5:14–19, Alkitab menceritakan bahwa Nehemia menjadi gubernur di Yehuda selama dua belas tahun, yaitu sejak tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Raja Artahsasta. Selama masa kepemimpinannya, ia tidak hanya memikirkan pembangunan tembok, tetapi juga memperhatikan keadaan rakyat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, utang, kekurangan makanan, dan berbagai tekanan kehidupan.
Nehemia memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya berarti mempunyai jabatan, kekuasaan, atau hak untuk menggunakan fasilitas tertentu. Seorang pemimpin juga harus memikirkan bagaimana setiap keputusan yang diambilnya akan memengaruhi kehidupan orang-orang yang dipimpin. Karena itu, walaupun Nehemia mempunyai hak sebagai gubernur, ia tidak menggunakan hak tersebut dengan cara yang menambah penderitaan rakyat.
Kita dapat memahami hal ini melalui kehidupan sehari-hari. Seorang kepala desa mungkin mempunyai kewenangan untuk mengelola anggaran desa, tetapi kewenangan itu diberikan supaya masyarakat dapat dilayani dan pembangunan berjalan dengan baik, bukan supaya dirinya memperoleh keuntungan pribadi. Demikian juga seorang pendeta, ketua yayasan, pemimpin usaha, atau kepala keluarga harus memahami bahwa tanggung jawab yang diterimanya bukan kesempatan untuk membuat orang lain melayani kepentingannya sendiri, melainkan kepercayaan untuk menjaga dan membangun kehidupan orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak boleh hanya dilihat dari besarnya pembangunan, banyaknya program, atau tingginya kedudukan yang dimiliki. Kita juga perlu melihat apakah kehidupan orang-orang yang dipimpinnya menjadi lebih baik, apakah keputusan yang diambil membawa keadilan, dan apakah kekuasaan yang dimiliki digunakan dengan jujur. Seorang pemimpin mungkin berhasil membangun gedung yang besar, tetapi kalau pembangunan itu dilakukan dengan menekan pekerja, mempermainkan uang, atau membebani orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, maka keberhasilan yang terlihat belum menunjukkan kepemimpinan yang benar di hadapan Tuhan.
Takut akan Tuhan Membuat Nehemia Tidak Menyalahgunakan Haknya
Nehemia 5:14–15 menjelaskan bahwa Nehemia tidak mengambil jatah makanan yang menjadi hak gubernur. Pada masa sebelumnya, para gubernur telah membebani rakyat dengan meminta makanan, anggur, dan uang, bahkan para pembantu mereka juga ikut menggunakan kedudukan untuk menekan masyarakat. Namun Nehemia memilih untuk tidak mengikuti kebiasaan tersebut karena ia takut akan Allah.
Takut akan Allah dalam bagian ini bukan berarti Nehemia hanya merasa takut menerima hukuman dari Tuhan. Maksudnya adalah ia menghormati Tuhan dan menyadari bahwa suatu hari dirinya harus mempertanggungjawabkan cara ia menggunakan kekuasaan. Nehemia memahami bahwa sekalipun manusia memberikan kepadanya kedudukan sebagai gubernur, ia tetap berada di bawah pemerintahan Allah. Karena itu, hak yang dimilikinya tidak boleh digunakan sesuka hati tanpa mempertimbangkan kebenaran dan keadaan rakyat.
Hal ini mengajarkan bahwa seseorang dapat mempunyai hak untuk menerima sesuatu, tetapi tetap perlu mempertimbangkan apakah menggunakan hak tersebut merupakan keputusan yang bijaksana. Tidak semua hal yang diperbolehkan harus selalu digunakan, terutama jika penggunaannya justru menambah beban orang lain. Seorang pemimpin yang dewasa tidak hanya bertanya, “Apakah saya berhak menerima ini?”, tetapi juga, “Apakah keputusan ini benar, adil, dan tidak memberatkan orang-orang yang saya pimpin?”
Namun kita juga perlu memahami bahwa tindakan Nehemia bukan berarti semua pemimpin harus menolak gaji, tunjangan, atau fasilitas yang memang menjadi hak mereka. Alkitab tidak mengajarkan bahwa seorang pekerja atau pelayan Tuhan harus selalu bekerja tanpa menerima penghasilan. Dalam 1 Korintus 9, Rasul Paulus menjelaskan bahwa orang yang melayani Injil mempunyai hak untuk menerima dukungan yang layak, walaupun dalam keadaan tertentu Paulus sendiri memilih tidak menggunakan hak tersebut demi kepentingan pelayanannya.
Karena itu, menerima gaji atau fasilitas yang sah bukanlah dosa. Seorang pendeta boleh menerima dukungan yang layak bagi kebutuhan hidupnya, seorang pekerja berhak menerima upah yang adil, dan seorang pejabat dapat menggunakan fasilitas yang memang disediakan untuk menjalankan tugasnya sesuai aturan. Persoalannya adalah apakah semuanya diterima secara benar, digunakan dengan bertanggung jawab, dan tidak menjadi sarana untuk mengambil keuntungan melalui penderitaan orang lain.
Seorang pemimpin yang takut akan Tuhan akan belajar membedakan antara kebutuhan yang wajar dan keinginan yang berlebihan. Ia tidak merasa bahwa semua fasilitas harus diambil hanya karena tersedia, tetapi mempertimbangkan apakah penggunaannya sesuai dengan keadaan dan kemampuan lembaga yang dipimpinnya. Ia juga tidak boleh berpura-pura hidup sederhana untuk mendapatkan pujian, sementara diam-diam menggunakan kedudukannya untuk memperoleh keuntungan yang tidak benar.
Inilah sikap yang dapat kita pelajari dari Nehemia. Ia tidak menggunakan kedudukannya hanya berdasarkan apa yang diperbolehkan, tetapi berdasarkan apa yang benar di hadapan Allah dan baik bagi rakyat yang dipercayakan kepadanya.
Jangan Mengambil Keuntungan dari Kesulitan Orang Lain
Nehemia 5:16 menjelaskan bahwa Nehemia terus mencurahkan perhatian kepada pembangunan tembok dan tidak membeli ladang, sedangkan para pegawainya juga ikut bekerja dalam pembangunan tersebut. Keterangan ini menjadi sangat penting karena pada bagian sebelumnya Alkitab menceritakan bahwa banyak keluarga di Yehuda sedang mengalami kesulitan ekonomi. Sebagian orang harus menggadaikan ladang dan kebun anggur mereka karena membutuhkan makanan dan uang untuk membayar pajak.
Dalam keadaan seperti itu, orang yang mempunyai uang dan kedudukan lebih tinggi dapat memperoleh kesempatan membeli tanah milik orang-orang yang sedang terdesak. Ketika sebuah keluarga sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup, mereka mungkin terpaksa menjual harta dengan harga yang tidak menguntungkan. Orang yang mempunyai modal besar dapat memanfaatkan keadaan tersebut untuk memperbanyak kekayaannya, meskipun keuntungan itu diperoleh dari kesulitan orang lain.
Namun Nehemia tidak menggunakan masa kepemimpinannya untuk mengejar keuntungan melalui pembelian ladang. Ia tetap memusatkan perhatian kepada pekerjaan pembangunan yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam keadaan rakyat sedang mengalami tekanan ekonomi, sikap ini menunjukkan bahwa Nehemia tidak menjadikan jabatannya sebagai kesempatan untuk memperbesar kekayaan dengan memanfaatkan kelemahan masyarakat.
Pelajaran ini sangat penting bagi orang percaya yang bekerja dalam dunia usaha, perdagangan, pertanian, pemerintahan, maupun pelayanan. Kita memang boleh bekerja, berdagang, mengembangkan usaha, dan memperoleh keuntungan yang benar, tetapi kita tidak boleh mencari keuntungan dengan sengaja memanfaatkan keadaan orang yang sedang terdesak.
Misalnya, ketika seorang petani sangat membutuhkan uang, kita tidak boleh memanfaatkan kelemahannya untuk memaksakan harga yang tidak adil. Ketika seseorang membutuhkan pekerjaan, kita tidak boleh menggunakan keadaannya sebagai alasan untuk memberikan upah yang tidak layak. Ketika masyarakat sedang membutuhkan barang tertentu, kita juga harus berhati-hati supaya keuntungan yang kita cari tidak dibangun melalui penipuan, pemaksaan, atau tindakan yang merugikan orang lain.
Dalam Kerajaan Allah, keuntungan bukanlah sesuatu yang otomatis salah, tetapi cara memperoleh keuntungan harus tetap berada di bawah kebenaran dan keadilan Tuhan. Kita tidak boleh merasa sudah berhasil hanya karena memperoleh banyak uang apabila keberhasilan tersebut dibangun melalui kesulitan orang lain. Tuhan mempercayakan kemampuan, kesempatan, dan sumber daya supaya semuanya dikelola dengan benar, bukan supaya kita menjadi kaya dengan mengabaikan penderitaan sesama.

Pemimpin Kerajaan Harus Memikirkan Beban Orang yang Dipimpinnya
Nehemia 5:17–18 menunjukkan bahwa tanggung jawab Nehemia juga mencakup penyediaan makanan bagi banyak orang. Alkitab menyebut seratus lima puluh orang Yahudi dan para pejabat, serta orang-orang dari bangsa-bangsa sekitar yang datang kepadanya. Ini menunjukkan bahwa kedudukannya sebagai gubernur membawa kebutuhan yang besar dalam menerima dan melayani orang-orang yang berhubungan dengan pemerintahannya.
Walaupun demikian, Nehemia tetap tidak mau mengambil jatah gubernur yang dapat menambah beban rakyat. Alkitab tidak menjelaskan secara lengkap dari mana seluruh biaya kebutuhan tersebut berasal, sehingga kita tidak perlu membuat kesimpulan yang tidak dinyatakan oleh Firman. Namun satu hal yang jelas adalah Nehemia mempunyai tanggung jawab yang besar dan tetap memilih untuk tidak menggunakan haknya dengan cara yang memperberat keadaan masyarakat.
Nehemia menjelaskan alasan keputusannya, yaitu karena beban rakyat sudah sangat berat. Ia mengetahui bahwa masyarakat sedang menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari kekurangan makanan, utang, pajak, sampai pekerjaan pembangunan tembok dan ancaman dari pihak-pihak yang menentang mereka. Dalam keadaan tersebut, Nehemia tidak ingin menjadi pemimpin yang justru menambahkan kesulitan baru melalui tuntutan fasilitas bagi dirinya sendiri.
Hal ini memperlihatkan bahwa Nehemia tidak hanya mengetahui keadaan rakyat melalui laporan, tetapi juga mempertimbangkan penderitaan mereka ketika mengambil keputusan. Ia memahami bahwa sebuah keputusan yang mungkin terlihat menguntungkan bagi seorang pemimpin dapat menjadi beban besar bagi orang-orang yang harus menanggung akibatnya. Karena itu, sebelum menggunakan haknya, ia terlebih dahulu melihat kemampuan dan keadaan masyarakat.
Kita dapat belajar melalui kehidupan keluarga. Seorang ayah mungkin mempunyai keinginan membeli sesuatu yang mahal, tetapi ketika kebutuhan sekolah anak belum terpenuhi atau keadaan keuangan keluarga sedang sulit, ia perlu mempertimbangkan kembali keinginannya. Bukan berarti ia tidak boleh menikmati hasil pekerjaannya, tetapi sebagai kepala keluarga ia harus memahami bahwa keinginan pribadi tidak boleh mengabaikan tanggung jawab terhadap orang-orang yang dipercayakan kepadanya.
Demikian juga seorang pemimpin gereja perlu mempertimbangkan keadaan jemaat sebelum membuat keputusan yang membutuhkan biaya besar. Sebuah program pelayanan mungkin mempunyai tujuan yang baik, tetapi cara pelaksanaannya tetap harus memperhatikan kemampuan jemaat. Jangan sampai orang-orang merasa dipaksa memberikan sesuatu di luar kemampuan mereka hanya supaya sebuah kegiatan terlihat besar dan berhasil.
Dalam dunia usaha, seorang pemilik bisnis juga perlu memperhatikan kesejahteraan pekerja sebelum mengeluarkan biaya besar untuk kepentingan pribadinya. Keuntungan usaha perlu dikelola dengan bijaksana supaya kewajiban kepada pekerja, pelanggan, pemasok, dan pihak lain tetap dipenuhi. Penghematan memang diperlukan, tetapi penghematan tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi hak orang lain secara tidak adil.
Karena itu, kepemimpinan Kerajaan tidak hanya menuntut pemimpin mampu menghitung keuntungan, tetapi juga mampu melihat keadaan manusia. Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak menyebabkan penderitaan yang sebenarnya dapat dihindari.
Pemimpin yang Benar Tidak Hanya Memikirkan Apa yang Boleh Diambil, tetapi Apa yang Harus Dijaga
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mengukur keberhasilan kepemimpinan dari fasilitas yang diterima. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula keinginan untuk memperoleh penghormatan, kendaraan yang baik, tempat yang nyaman, dan berbagai keuntungan lainnya. Padahal dalam Kerajaan Allah, kedudukan yang semakin tinggi seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa semakin banyak orang yang harus diperhatikan dan dilayani.
Nehemia mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak harus menggunakan seluruh haknya hanya untuk membuktikan bahwa ia mempunyai kedudukan. Ia tidak kehilangan kehormatan ketika memilih membatasi fasilitas yang diterimanya. Justru melalui keputusan tersebut, ia menunjukkan bahwa tanggung jawab kepada rakyat lebih penting daripada keinginan menikmati seluruh keuntungan dari jabatannya.
Namun prinsip ini juga tidak berarti seorang pemimpin harus selalu mengorbankan seluruh kebutuhan pribadinya sampai keluarganya sendiri terlantar. Kepemimpinan yang sehat tetap memerlukan pengelolaan yang adil, termasuk penghasilan yang wajar, kebutuhan keluarga, kesehatan, dan kemampuan pemimpin menjalankan pekerjaannya dengan baik. Yang harus dihindari adalah penggunaan hak secara berlebihan, tidak transparan, atau dengan sengaja membebani orang-orang yang sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, hikmat seorang pemimpin terlihat ketika ia mampu membedakan antara sesuatu yang secara aturan diperbolehkan dan sesuatu yang paling tepat dilakukan dalam keadaan tertentu. Mungkin suatu fasilitas memang tersedia, tetapi keadaan organisasi sedang sulit. Mungkin sebuah pengeluaran dapat dibenarkan, tetapi ada kebutuhan yang lebih mendesak. Mungkin seorang pemimpin mempunyai wewenang mengambil keputusan sendiri, tetapi keputusan tersebut akan lebih baik apabila terlebih dahulu mendengarkan masukan orang-orang yang terkena dampaknya.
Pemimpin yang matang tidak hanya bertanya mengenai hak, tetapi juga memikirkan tanggung jawab. Ia tidak hanya bertanya berapa banyak yang dapat diterima, tetapi juga berapa banyak yang dapat dijaga, dibangun, dan dipercayakan kembali untuk kepentingan orang lain.
DNA REIGN: Semakin Besar Otoritas, Semakin Besar Tanggung Jawab terhadap Manusia
Dalam DNA REIGN, kepemimpinan Kerajaan harus dibangun di atas pengertian bahwa seluruh otoritas berasal dari Tuhan dan harus digunakan sesuai dengan kehendak-Nya. Seorang pemimpin bukan pemilik mutlak atas manusia, uang, organisasi, atau sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Ia adalah pengelola yang suatu hari harus mempertanggungjawabkan bagaimana semuanya digunakan.
Karena itu, ketika seorang anak Kerajaan Allah bertumbuh menuju kedewasaan, ia tidak hanya belajar bagaimana memperoleh kesempatan yang lebih besar, tetapi juga bagaimana menggunakan kesempatan tersebut dengan benar. Ia tidak hanya mengejar jabatan, tetapi mempersiapkan karakter. Ia tidak hanya belajar memimpin pekerjaan, tetapi juga belajar memahami akibat dari keputusannya terhadap kehidupan manusia.
Inilah salah satu tanda kedewasaan seorang HUIOS, yaitu anak Allah yang semakin matang dan mampu memikul tanggung jawab. Anak yang belum dewasa sering kali lebih banyak memikirkan apa yang dapat diterima dari kedudukannya, sedangkan anak yang semakin dewasa mulai memikirkan apa yang harus dijaga dan dibangun melalui kedudukan tersebut. Ia mengerti bahwa menerima kepercayaan dari Tuhan bukan berarti memperoleh kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut keinginan pribadi, tetapi menerima tanggung jawab untuk menjalankan kehendak Sang Raja.
Seorang pemimpin apostolik juga tidak boleh memisahkan keberhasilan membangun sesuatu dari cara ia memperlakukan manusia. Kita tidak dapat berkata sedang membangun Kerajaan Allah apabila cara kita memimpin justru penuh manipulasi, ketidakadilan, penindasan, dan penggunaan uang yang tidak benar. Gereja yang besar, jaringan yang luas, usaha yang berkembang, atau proyek yang berhasil tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan kebenaran dan keadilan.
Karena itu, pembangunan yang benar harus berjalan bersama dengan kepemimpinan yang benar. Nehemia tidak hanya memperbaiki tembok Yerusalem, tetapi juga memperhatikan keadaan rakyat yang sedang membangun tembok tersebut. Ia memahami bahwa pembangunan kota tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kehidupan manusia yang seharusnya dilindungi.
Pelajaran ini sangat penting bagi gereja apostolik yang mempunyai mandat membangun manusia, mempersiapkan generasi, memengaruhi kota, dan membawa nilai Kerajaan Allah kepada bangsa-bangsa. Kita tidak boleh hanya menghasilkan banyak kegiatan dan bangunan, tetapi harus membangun budaya kepemimpinan yang jujur, adil, penuh belas kasihan, dan bertanggung jawab. Orang-orang yang dipercayakan kepada kita bukan alat untuk memperbesar nama atau pelayanan, tetapi manusia yang berharga di hadapan Allah dan harus diperlakukan sesuai dengan nilai Kerajaan-Nya.
Seperti orang Isakhar yang memahami keadaan dan mengetahui apa yang harus dilakukan, seorang pemimpin Kerajaan perlu mampu membaca keadaan orang-orang yang dipimpinnya. Ia harus mengetahui kapan perlu menggunakan sumber daya, kapan perlu menahan pengeluaran, kapan harus mengutamakan kebutuhan orang lain, dan kapan perlu memperbaiki kebijakan yang ternyata membawa beban yang tidak adil.
Dengan demikian, Nehemia mengajarkan bahwa pemimpin yang benar tidak hanya mempunyai keberanian membangun, tetapi juga mempunyai hati yang takut akan Tuhan dan peka terhadap keadaan manusia. Kekuasaan yang dipercayakan kepadanya tidak digunakan untuk memperbesar keuntungan pribadi melalui penderitaan rakyat, tetapi untuk menjalankan tanggung jawab dengan adil dan penuh hikmat.

BUILD — Bangun Hati yang Melihat Jabatan sebagai Tanggung Jawab
Mulailah dengan membangun pengertian bahwa setiap kedudukan yang Tuhan percayakan adalah tanggung jawab, bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Jika kita dipercaya memimpin keluarga, gereja, usaha, yayasan, atau sebuah kelompok, kita perlu belajar memikirkan bagaimana keputusan yang kita ambil memengaruhi kehidupan orang lain. Jangan hanya melihat apa yang dapat kita terima melalui kedudukan tersebut, tetapi perhatikan juga siapa yang harus kita jaga dan layani.
Bangun kebiasaan memeriksa motivasi ketika menerima hak atau fasilitas. Tanyakan dengan jujur apakah sesuatu benar-benar diperlukan untuk menjalankan tanggung jawab atau hanya diinginkan supaya kita terlihat lebih penting. Mintalah hikmat kepada Tuhan supaya kita tidak menyalahgunakan kepercayaan, tidak mengabaikan kebutuhan orang lain, dan tetap mampu membedakan antara hak yang sah dengan keinginan yang berlebihan.
CREATE — Ciptakan Cara Mengelola Uang dan Kekuasaan dengan Adil
Mulailah membangun cara kerja yang jelas dan terbuka dalam menggunakan uang, fasilitas, serta sumber daya yang dipercayakan. Dalam keluarga, buatlah pengaturan keuangan yang mendahulukan kebutuhan penting sebelum memenuhi keinginan pribadi. Dalam usaha, pastikan upah pekerja, kewajiban kepada pemasok, dan kebutuhan operasional dipenuhi dengan benar. Dalam pelayanan, biasakan menyusun anggaran yang jelas supaya setiap pengeluaran dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menjadi beban yang tidak perlu bagi jemaat.
Kalau kita memimpin sebuah organisasi, ciptakan kebiasaan untuk mempertimbangkan keadaan orang-orang yang terkena dampak keputusan. Sebelum membuat program yang memerlukan biaya besar, periksa apakah anggarannya tersedia, apakah ada kebutuhan yang lebih mendesak, dan apakah keputusan itu akan membawa manfaat yang seimbang dengan biaya yang dikeluarkan. Jangan membuat keputusan hanya karena sesuatu terlihat menarik atau dapat meningkatkan nama pemimpin, tetapi pastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar membantu pekerjaan yang dipercayakan Tuhan.
ACTIVATE — Gunakan Satu Hak atau Kesempatan dengan Lebih Bertanggung Jawab Hari Ini
Pilih satu bagian kehidupan yang berkaitan dengan uang, fasilitas, jabatan, atau tanggung jawab yang sedang kita pegang. Periksalah apakah selama ini kita sudah menggunakannya dengan benar atau masih ada keputusan yang terlalu mengutamakan kepentingan pribadi. Jika menemukan sesuatu yang perlu diperbaiki, lakukan satu tindakan nyata, seperti mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, memperbaiki pencatatan keuangan, membayar kewajiban yang tertunda, atau mendengarkan keadaan orang-orang yang selama ini menanggung akibat keputusan kita.
Jika kita mempunyai hak menerima sesuatu yang sah, kita tidak harus langsung menolaknya, tetapi belajarlah mempertimbangkan apakah penggunaannya sudah tepat. Jika keadaan organisasi sedang sulit, mungkin kita dapat menunda kebutuhan yang tidak mendesak. Jika ada pekerja yang belum menerima haknya, dahulukan penyelesaian kewajiban tersebut. Jika kita mempunyai sumber daya yang cukup, pikirkan bagaimana sebagian darinya dapat digunakan untuk menolong orang lain tanpa mengabaikan tanggung jawab yang sudah ada.
Dalam setiap keputusan, biasakan bertanya, “Apakah saya sedang menggunakan kedudukan ini untuk melayani orang lain, atau justru membuat orang lain menanggung beban demi kepentingan saya?” Pertanyaan sederhana ini akan menolong kita terus mengingat bahwa seluruh otoritas yang kita miliki harus berada di bawah pemerintahan Kristus.
Nehemia menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang takut akan Tuhan tidak hanya memikirkan apa yang menjadi haknya, tetapi juga memikirkan keadaan orang-orang yang dipimpinnya. Ia dapat menggunakan jabatannya untuk memperoleh berbagai keuntungan, tetapi ia memilih membatasi penggunaan haknya karena mengetahui bahwa rakyat sedang menanggung beban yang berat. Karena itu, semakin besar kedudukan yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga keadilan, memperhatikan kehidupan manusia, dan memastikan bahwa keputusan kita tidak menambah penderitaan yang seharusnya dapat dihindari. Kepemimpinan Kerajaan yang sejati bukan menggunakan manusia untuk membesarkan pemimpin, tetapi menggunakan otoritas yang dipercayakan Tuhan untuk membangun, melindungi, dan membawa kehidupan bagi manusia di bawah pemerintahan Sang Raja.
Leave a Reply