Krisis Tidak Selalu Membatalkan Waktu Tuhan

5–8 minutes

read

Krisis Tidak Selalu Membatalkan Waktu Tuhan

Krisis Tidak Selalu Membatalkan Waktu Tuhan

Special Message by PS. SAMUEL MULYONO

Orang yang belajar memahami waktu Tuhan tidak boleh menilai keadaan hanya dari apakah hidup sedang mudah atau sulit. Kita sering berpikir bahwa kalau semuanya lancar berarti Tuhan sedang bekerja, sedangkan kalau ada masalah berarti kita keluar dari kehendak-Nya. Namun Alkitab menunjukkan bahwa tidak selalu demikian. Ada banyak peristiwa penting justru terjadi ketika keadaan sedang tidak baik. Ada orang sakit yang akhirnya bertemu Yesus karena penyakitnya membuat ia mencari pertolongan, ada orang yang sedang berduka yang justru melihat kuasa Tuhan dinyatakan, ada orang yang masuk penjara tetapi di dalam penjara itu Injil menjangkau satu keluarga, dan ada nabi yang dihentikan oleh badai karena ia sedang lari dari tugas yang Tuhan berikan.

Karena itu, krisis tidak selalu berarti rencana Tuhan berhenti. Ini juga bukan berarti bahwa semua penderitaan berasal dari Tuhan atau bahwa semua masalah itu baik. Maksudnya adalah Tuhan tetap berdaulat, sehingga keadaan yang buruk sekalipun tidak dapat menghalangi Dia untuk bekerja. Tuhan dapat memakai keadaan yang tidak kita pilih untuk menegur kita, membuka mata kita, mengubah arah kita, mempertemukan kita dengan orang yang tepat, menyelamatkan kita dari jalan yang salah, atau membawa kita kembali kepada tugas yang seharusnya kita kerjakan.

Krisis dan waktu Tuhan sebenarnya bukan hal yang sama. Krisis adalah keadaan ketika kita sedang berada dalam tekanan, masalah, bahaya, atau situasi yang memaksa kita mengambil keputusan. Sedangkan kairos adalah waktu yang penting, yaitu saat ketika kita harus memberikan respons yang tepat kepada apa yang sedang Tuhan kerjakan. Jadi, tidak semua krisis otomatis menjadi kairos, dan tidak semua kairos datang melalui krisis.

Sebuah krisis menjadi sangat penting ketika di tengah keadaan itu kita harus mengambil keputusan yang menentukan. Mungkin ada sesuatu yang harus kita tinggalkan, sesuatu yang harus kita pertahankan, sesuatu yang harus kita perbaiki, seseorang yang harus kita ampuni, dosa yang harus kita tinggalkan, atau langkah yang harus kita ambil dengan taat. Jadi, pertanyaan yang penting bukan hanya, “Mengapa masalah ini terjadi kepada saya?” tetapi juga, “Tuhan, apa yang harus saya pahami dan lakukan di tengah keadaan ini?”

Orang Isakhar tidak menilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Ia tidak langsung berkata bahwa setiap penderitaan adalah hukuman Tuhan, setiap pintu tertutup adalah serangan musuh, atau setiap konflik berarti kita sedang berjalan di arah yang salah. Ia belajar membedakan keadaan dengan hikmat. Dalam Alkitab, kata binah berbicara tentang pengertian yang mampu membedakan dengan benar, kemudian dari pengertian itu lahir pertanyaan mah ya‘aseh, yaitu “apa yang harus dilakukan?”

Promotional banner for Reign School featuring the title 'Crisis Does Not Always Nullify God's Timing' with imagery depicting biblical figures facing challenges and storms, encouraging responses to various problems under Christ's authority.

Hal ini sangat penting karena ketika seseorang berada dalam tekanan, ia mudah bereaksi tanpa berpikir. Ada yang langsung marah, menyerah, menyalahkan orang lain, atau mengambil keputusan tergesa-gesa. Padahal tidak semua masalah harus dijawab dengan cara yang sama. Ada masalah yang harus kita hadapi dengan keberanian, ada yang menuntut pertobatan, ada yang menuntut ketekunan, ada yang perlu kita lepaskan, dan ada juga yang harus kita lewati dengan sabar.

Kisah Bartimeus, Yunus, serta Paulus dan Silas menolong kita melihat bahwa masalah yang berbeda membutuhkan respons yang berbeda. Bartimeus mengalami keterbatasan karena ia buta, dan Alkitab tidak mengatakan bahwa kebutaannya terjadi karena ia memberontak kepada Tuhan. Ketika ia mendengar Yesus lewat, ia menyadari bahwa itu adalah kesempatan yang penting. Orang-orang menyuruhnya diam, tetapi ia justru berseru lebih keras. Dalam kasus Bartimeus, respons yang tepat adalah berani menangkap kesempatan.

Yunus mempunyai keadaan yang berbeda. Ia berada di tengah badai karena sedang melarikan diri dari tugas yang Tuhan berikan. Karena itu, Yunus tidak hanya membutuhkan badai berhenti. Ia membutuhkan perubahan arah. Kalau Yunus hanya berdoa supaya keadaan menjadi nyaman tetapi tetap lari dari panggilan Tuhan, masalah yang sebenarnya belum selesai. Dalam kasus Yunus, respons yang tepat adalah bertobat dan kembali taat kepada tugas yang Tuhan berikan.

Paulus dan Silas mempunyai keadaan yang berbeda lagi. Mereka masuk penjara bukan karena melarikan diri dari tugas Tuhan, tetapi justru karena sedang taat kepada panggilan mereka. Karena itu, mereka tidak perlu bertobat dari pelayanan mereka atau meninggalkan tugas mereka. Mereka perlu tetap setia di tengah penderitaan. Di dalam penjara mereka berdoa dan memuji Tuhan, lalu Tuhan bekerja dengan luar biasa sampai kepala penjara dan keluarganya mengalami keselamatan.

Dari tiga kisah ini kita belajar bahwa tidak ada satu jawaban yang dapat dipakai untuk semua masalah. Bartimeus harus berseru dan menangkap kesempatan. Yunus harus berhenti melarikan diri dan kembali kepada ketaatan. Paulus dan Silas harus bertahan dalam kesetiaan meskipun sedang menderita. Karena itu, kita tidak boleh cepat memberikan kesimpulan ketika melihat masalah seseorang.

Ada orang yang sedang mengalami kesulitan karena keputusan yang salah dan memang perlu memperbaiki arah hidup. Ada orang yang sedang mengalami tekanan justru karena sedang melakukan hal yang benar dan perlu terus bertahan. Ada juga orang yang sedang berada dalam masa sulit tetapi Tuhan sedang membuka kesempatan baru di tengah keadaan tersebut. Yang dibutuhkan bukan hanya keinginan supaya masalah cepat selesai, tetapi kemampuan memahami apa yang sedang Tuhan minta kita lakukan.

Inilah cara pandang Kerajaan Allah. Kita tidak hanya bertanya bagaimana keluar dari masalah, tetapi bagaimana tetap berada di bawah pemerintahan Kristus di dalam masalah tersebut. Kadang-kadang Tuhan mengeluarkan kita dari kesulitan, tetapi kadang-kadang Ia terlebih dahulu membentuk kita melalui kesulitan. Ada saatnya Tuhan menghentikan badai, tetapi ada juga saatnya badai dipakai untuk menghentikan kita dari jalan yang salah. Ada saatnya pintu penjara terbuka, tetapi sebelum pintu itu terbuka Tuhan sudah terlebih dahulu memakai orang yang berada di dalam penjara untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa musim hidup kita sudah gagal hanya karena keadaan tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Bisa jadi di tengah keadaan yang sulit terdapat keputusan penting, perubahan arah, perjumpaan, atau kesempatan yang tidak akan kita lihat kalau kita hanya sibuk mengeluh. Manusia Isakhar belajar melihat lebih dalam dan bertanya, “Apa yang sedang Tuhan kerjakan, dan bagaimana saya harus merespons?”

A visual representation of a person standing at a crossroads, contemplating decisions amidst a backdrop of chaos and hope. The image includes elements like stormy waves, a city skyline, and symbolic signs representing various challenges such as pressure, uncertainty, and confusion. The title 'Krisis Tidak Selalu Membatalkan Waktu Tuhan' is prominent, conveying a message about navigating crises and seeking divine guidance.

BUILD — Bangun Hati yang Tidak Mudah Menyerah ketika Masalah Datang

Bangun kebiasaan untuk datang kepada Tuhan sebelum mengambil kesimpulan tentang keadaan. Ketika masalah datang, jangan langsung berkata bahwa Tuhan meninggalkan kita, jangan juga langsung menyalahkan orang lain atau musuh. Berdoalah dan mintalah hikmat supaya kita dapat melihat keadaan dengan benar.

Bangun juga hati yang mau dikoreksi. Tanyakan dengan jujur, “Apakah masalah ini sedang menunjukkan sesuatu yang perlu saya perbaiki, atau apakah saya justru harus tetap bertahan dalam ketaatan?” Sikap seperti ini akan menolong kita tidak mudah lari dari proses Tuhan dan tidak keras kepala ketika memang ada sesuatu yang harus diubah.

CREATE — Ciptakan Respons yang Tepat terhadap Keadaan yang Sedang Dihadapi

Setelah berdoa dan memahami keadaan, mulailah menentukan langkah yang sesuai. Jika kita sadar sudah berjalan ke arah yang salah, buatlah perubahan. Jika Tuhan sedang memberikan kesempatan, jangan biarkan rasa takut membuat kita diam. Jika kita sedang menderita karena melakukan yang benar, buatlah pola hidup yang menolong kita tetap setia.

Kita juga dapat menciptakan lingkungan yang membantu kita melihat dengan lebih jernih melalui komunitas, nasihat dari orang yang dewasa rohani, pembacaan Firman, dan evaluasi yang jujur. Jangan mengambil keputusan besar hanya berdasarkan perasaan sesaat ketika sedang tertekan.

ACTIVATE — Lakukan Apa yang Sudah Tuhan Tunjukkan

Sesudah mengetahui apa yang harus dilakukan, ambillah langkah nyata. Jika seperti Bartimeus, mungkin kita perlu berhenti diam dan mulai berseru serta mengambil kesempatan. Jika seperti Yunus, mungkin kita perlu berhenti berlari dan kembali kepada tugas yang Tuhan berikan. Jika seperti Paulus dan Silas, mungkin kita tidak perlu mengubah arah, tetapi justru perlu tetap setia walaupun keadaan belum berubah.

Jangan hanya berdoa supaya krisis cepat berlalu. Berdoalah juga supaya kita tidak kehilangan pelajaran, koreksi, kesempatan, atau tugas yang Tuhan sedang buka di tengah krisis itu.

Krisis tidak selalu berarti Tuhan sedang menutup jalan. Kadang-kadang justru di tengah keadaan yang sulit Tuhan sedang menunjukkan sesuatu yang sangat penting. Yang terutama bukan hanya seberapa cepat kita keluar dari masalah, tetapi apakah kita mampu melihat apa yang Tuhan sedang kerjakan dan memberikan respons yang benar di bawah pemerintahan-Nya.

Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Discover more from SAMUELMULYONO

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading