Menjadi Anak-Anak-Nya: Dipulihkan kepada Posisi sebagai Anak

8–12 minutes

read

Menjadi Anak-Anak-Nya: Dipulihkan kepada Posisi sebagai Anak

Menjadi Anak-Anak-Nya: Dipulihkan kepada Posisi sebagai Anak

Special Message by PS. SAMUEL MULYONO

Efesus 1:5 memakai kata Yunani huiothesia, yang sering diterjemahkan sebagai “pengangkatan sebagai anak” atau “adopsi sebagai anak”. Dalam dunia pada zaman Paulus, kata ini berbicara tentang seseorang yang ditempatkan secara resmi sebagai anak dalam sebuah keluarga dan menerima hak yang sesuai dengan kedudukan itu. Jadi, ketika Paulus berkata bahwa melalui Kristus kita menerima kedudukan sebagai anak, maksudnya bukan hanya bahwa kita diterima secara perasaan, tetapi bahwa kita benar-benar dibawa masuk ke dalam hubungan keluarga dengan Allah, menerima identitas, penerimaan, hak, dan warisan sebagai anak-anak-Nya.

Hal ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Kata “anak” dalam bagian ini tidak sedang membahas jenis kelamin, tetapi kedudukan di dalam keluarga Allah. Semua orang yang berada di dalam Kristus menerima hak yang sama untuk menjadi bagian dari keluarga Allah dan menerima warisan yang Ia sediakan.

Paulus tidak mengatakan bahwa tujuan tertinggi Allah adalah menjadikan kita hanya sebagai pekerja-Nya, walaupun kita memang melayani Tuhan. Ia juga tidak berhenti pada gambaran bahwa kita adalah anggota sebuah kelompok atau organisasi, walaupun kita memang menjadi bagian dari tubuh Kristus. Ia membawa kita kepada hubungan sebagai anak karena dalam Kerajaan Allah, pelayanan yang sehat harus lahir dari identitas yang benar. Kita melayani bukan supaya diterima sebagai anak, tetapi karena kita sudah diterima di dalam Kristus.

Roma 8:14–17 memperjelas hal ini. Paulus berkata bahwa mereka yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah. Ia membedakan antara hidup dalam ketakutan seperti budak dengan hidup sebagai anak yang dapat berseru, “Abba, Bapa.” Dari hubungan ini kemudian muncul warisan. Jadi, kehidupan sebagai anak Allah selalu mempunyai beberapa bagian yang saling berhubungan, yaitu kita memiliki identitas sebagai anak, mempunyai hubungan dengan Bapa, dibentuk menuju kedewasaan, dan menerima warisan yang harus dikelola dengan benar.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang anak dalam Kingdom Fathering, kita tidak sedang membangun orang-orang yang terus bergantung secara tidak sehat kepada seorang pemimpin manusia. Pembapaan yang benar justru membantu seseorang semakin dewasa di bawah Bapa surgawi. Seorang bapa rohani harus menolong anak bertumbuh dalam Firman, belajar mendengar Roh Kudus, membangun karakter, mengambil keputusan yang benar, mengelola apa yang Tuhan percayakan, dan memikul tanggung jawab dengan semakin matang.

Pembapaan yang membuat anak semakin lemah supaya bapanya semakin diperlukan bukanlah pembapaan yang sehat. Seorang bapa yang benar justru bersukacita ketika anak mulai mampu memikul tanggung jawab yang lebih besar, berdiri dengan kokoh dalam Tuhan, dan membawa sesuatu yang dahulu hanya dapat dipikul oleh generasi sebelumnya. Tujuan pembapaan bukan membuat anak terus kecil, tetapi menolongnya menjadi dewasa.

Allah Menghendaki Anak-Anak yang Kudus dan Tidak Bercacat

Efesus 1:4 mengatakan bahwa Allah memilih kita supaya kita menjadi kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Jadi, Tuhan tidak hanya ingin mempunyai banyak anak, tetapi Ia ingin anak-anak-Nya dibentuk sehingga kehidupan mereka sesuai dengan karakter rumah-Nya.

Kata “kudus” berbicara tentang kehidupan yang dipisahkan bagi Allah dan menjadi milik-Nya. Sementara itu, “tidak bercacat” berbicara tentang kehidupan yang tidak hidup sembarangan di hadapan Tuhan. Ini berarti bahwa tujuan Allah bukan hanya membuat kita merasa diterima, tetapi juga membentuk kehidupan kita supaya semakin sesuai dengan kehendak-Nya.

Karena itu, Kingdom Fathering tidak boleh hanya menjadi hubungan yang dekat atau hangat. Tidak semua hubungan yang dekat dengan seorang pemimpin otomatis merupakan pembapaan. Tidak semua orang yang memanggil seorang pemimpin “Papa” atau “Father” otomatis sedang hidup dalam pola pembapaan Kerajaan.

Ukuran pembapaan yang benar harus dilihat dari hasilnya. Apakah orang yang dibapai semakin hidup benar? Apakah karakter Kristus semakin nyata? Apakah integritasnya bertambah kuat ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah ia semakin bertanggung jawab? Apakah ia semakin dapat dipercaya dengan manusia, uang, pelayanan, kuasa, pewahyuan, dan pengaruh?

Kalau kedekatan semakin besar tetapi karakter tidak berubah, berarti hubungan itu belum tentu menghasilkan pembapaan yang sehat. Pembapaan yang benar harus membawa pembentukan.

Ibrani 12:5–11 menolong kita memahami bahwa Allah sebagai Bapa juga mendidik anak-anak yang dikasihi-Nya. Kasih Tuhan bukan kasih yang membiarkan kita tetap hidup dalam ketidakdewasaan. Justru karena Ia mengasihi, Ia membentuk, menegur, melatih, dan mendisiplin kita supaya kita bertumbuh.

Di sinilah kita harus menjaga keseimbangan. Pembapaan yang tidak pernah mengoreksi hanya menghasilkan kenyamanan tanpa pertumbuhan, tetapi pembapaan yang hanya mengoreksi tanpa kasih dapat menghasilkan luka dan kontrol. Kingdom Fathering harus menyatukan kasih dengan disiplin, karena tujuannya bukan sekadar membuat anak merasa nyaman, tetapi menolongnya menjadi dewasa dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah.

Allah tidak berkata, “Kalau kamu sudah kudus baru Aku mengasihimu.” Justru karena Ia mengasihi, Ia membawa anak-anak-Nya masuk dalam proses pembentukan. Penerimaan datang dari kasih, tetapi kasih itu tidak membiarkan kita tetap sama.

Kingdom Fathering Berasal dari Kasih, Bukan dari Kebutuhan untuk Dihormati

Efesus 1:4–5 juga memakai ungkapan “di dalam kasih”. Hal ini sangat penting karena seluruh rencana Allah terhadap anak-anak-Nya berakar dalam kasih. Anak-anak bukan proyek untuk membesarkan nama seorang bapa, tetapi kehidupan yang harus dikasihi dan dibawa kepada maksud Tuhan.

Kasih yang Alkitab gambarkan bukan kasih yang hanya berbicara tentang perasaan. Kasih adalah kasih yang memberikan diri dan mencari kebaikan orang yang dikasihi. Karena itu, pembapaan Kerajaan berbeda dengan sistem kepemimpinan yang hanya membangun loyalitas kepada pemimpin.

Dalam sistem yang tidak sehat, seorang pemimpin dapat membangun orang lain supaya namanya semakin besar, pengaruhnya semakin luas, jumlah pengikutnya semakin banyak, atau supaya ia mempunyai orang-orang yang terus melayaninya. Tetapi dalam Kingdom Fathering, seorang bapa menanamkan hidupnya supaya anak dapat berdiri dalam kehendak Tuhan, bahkan kalau suatu hari anak itu mempunyai jangkauan yang lebih luas daripada dirinya.

Yohanes 3:16 memperlihatkan pola kasih yang sangat kuat: Bapa mengasihi dan karena itu Ia memberi. Kasih Kerajaan selalu mempunyai arah memberi. Karena itu, seorang bapa yang sehat tidak bertanya, “Apa yang anak ini dapat berikan kepada saya?” tetapi “Apa yang dapat saya berikan supaya orang ini bertumbuh dalam maksud Tuhan?”

Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus bahwa bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta bagi orang tua, tetapi orang tua bagi anak-anak. Walaupun konteks ayat itu berkaitan dengan pelayanan dan dukungan, prinsipnya tetap kuat, yaitu seorang bapa lebih dahulu menanam sebelum meminta hasil.

Seorang bapa memberi sebelum menuntut penghormatan, membentuk sebelum menuntut representasi, dan menanggung proses sebelum berharap anak membawa warisan lebih jauh. Itulah kasih dalam pembapaan.

A group of people walking up stairs towards a bright, heavenly city, guided by a robed figure, representing spiritual growth and leadership. An open Bible and a crown are in the foreground.

Yesus Kristus Tetap Menjadi Jalan dan Pusat Pembapaan

Efesus 1:5 mengatakan bahwa kita menerima kedudukan sebagai anak melalui Yesus Kristus. Ini sangat penting karena hubungan kita sebagai anak dengan Allah tidak datang melalui seorang pemimpin manusia, seorang rasul, sebuah gereja, atau sebuah struktur pelayanan. Kita menjadi anak Allah melalui Kristus.

Karena itu, seorang bapa rohani tidak pernah boleh mengambil tempat yang hanya menjadi milik Bapa surgawi. Seorang pemimpin juga tidak boleh menjadi sumber utama identitas bagi orang-orang yang dibimbingnya. Kristus tetap pusat, Kristus tetap Kepala, dan Kristus tetap Jalan yang membawa kita kepada Bapa.

Kalau sebuah hubungan pembapaan membuat seseorang semakin bergantung kepada manusia tetapi semakin sedikit bergantung kepada Kristus, hubungan itu sudah bergerak ke arah yang salah. Pembapaan yang benar harus membuat seseorang semakin kuat di dalam Tuhan, semakin mengerti Firman, semakin mengenal Roh Kudus, dan semakin mampu hidup dalam ketaatan kepada Kristus.

Roma 8:29 mengatakan bahwa tujuan Allah adalah supaya kita menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Ini menunjukkan bahwa Kristus bukan hanya jalan yang membawa kita kepada Bapa, tetapi juga pola kedewasaan anak.

Yesus menunjukkan bagaimana seorang Anak hidup. Ia mendengar Bapa, melakukan pekerjaan Bapa, membawa nama Bapa, menunjukkan karakter Bapa, dan menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Ketika Yesus berkata bahwa Anak tidak melakukan sesuatu dari diri-Nya sendiri, itu bukan kelemahan, tetapi gambaran keselarasan yang sempurna dengan Bapa.

Karena itu, kedewasaan dalam Kerajaan Allah bukan berarti menjadi orang yang tidak membutuhkan siapa pun. Kedewasaan berarti seseorang tidak lagi hidup dalam ketergantungan yang tidak sehat kepada manusia, tetapi tetap hidup dalam ketergantungan yang benar kepada Allah sambil mampu memikul tanggung jawab yang besar.

Anak yang dewasa tetap membutuhkan Tuhan, tetap tunduk kepada Kristus, tetap hidup dalam relasi yang sehat, tetapi sudah mampu mengambil keputusan, membawa beban, melayani orang lain, dan menanggung tanggung jawab sesuai dengan panggilannya.

Empat Dasar Utama Kingdom Fathering

Dari Efesus 1:4–5, kita dapat melihat empat dasar penting bagi Kingdom Fathering. Allah menghendaki anak-anak, semuanya lahir dari kasih, anak-anak itu harus dibentuk menjadi kudus dan tidak bercacat, dan semua ini terjadi melalui Yesus Kristus.

Keempat hal ini harus berjalan bersama. Kalau kita hanya berbicara tentang anak tanpa kasih, kita dapat membangun hubungan yang keras dan hanya menuntut loyalitas. Kalau kita hanya berbicara tentang kasih tanpa kekudusan, kita dapat menghasilkan penerimaan tanpa perubahan hidup.

Kalau kita hanya berbicara tentang kekudusan tetapi tidak membangun identitas sebagai anak, kita dapat menghasilkan agama yang penuh aturan tetapi tidak mempunyai hubungan yang sehat dengan Bapa. Dan kalau kita berbicara tentang semua hal itu tanpa menempatkan Kristus di tengahnya, kita dapat membangun sistem pembapaan yang kelihatannya rohani tetapi sebenarnya sudah kehilangan pusatnya.

Karena itu, Kingdom Fathering harus selalu berpusat pada Kristus, dibangun dalam hubungan yang sehat, menghasilkan pembentukan karakter, dan berakar pada kasih.

Inilah fondasi yang harus dijaga. Jika kita memulai fathering hanya dari penghormatan kepada pemimpin, kita mungkin menghasilkan budaya hormat tetapi tidak menghasilkan anak yang dewasa. Jika kita hanya memikirkan suksesi, kita dapat menghasilkan penerus jabatan tanpa penerus karakter. Jika kita hanya membangun organisasi, kita dapat menghasilkan jaringan besar tanpa kehidupan keluarga yang nyata.

Tetapi kalau kita memulai dari hati Bapa yang menghendaki anak-anak, membentuk mereka dalam kasih, membawa mereka kepada kekudusan, dan menjadikan Kristus sebagai pusat, maka penghormatan, warisan, koreksi, suksesi, tanggung jawab, dan pemerintahan akan menemukan tempat yang benar.

Promotional graphic for Reign School featuring the title 'Kingdom Fathering yang Sehat.' It displays a group of diverse individuals walking towards a city with a cross atop a hill, symbolizing growth and guidance in faith. The image includes text emphasizing leadership, character building, and mentorship in a spiritual context.

BUILD — Bangun Identitas, Karakter, dan Hubungan dengan Kristus

Mulailah dengan membangun identitas sebagai anak Allah. Jangan hanya melihat diri sebagai pekerja Tuhan, tetapi sebagai anak yang hidup dalam hubungan dengan Bapa melalui Kristus. Bangun kehidupan doa, pembacaan Firman, dan ketaatan supaya hubungan dengan Tuhan semakin kuat.

Bangun juga karakter. Belajarlah menerima koreksi, menjaga integritas ketika tidak ada orang yang melihat, dan bertanggung jawab atas apa yang Tuhan percayakan. Kedewasaan tidak dibuktikan dari banyaknya gelar atau pelayanan, tetapi dari kehidupan yang semakin dapat dipercaya.

Bagi seorang pemimpin, bangunlah hati yang tidak takut melihat orang lain bertumbuh. Jangan merasa terancam ketika anak rohani mulai mampu mengambil tanggung jawab lebih besar, karena salah satu tanda keberhasilan pembapaan adalah ketika anak semakin matang.

CREATE — Ciptakan Lingkungan yang Menghasilkan Kedewasaan

Ciptakan hubungan pembapaan yang tidak hanya memberikan perhatian, tetapi juga pembentukan. Berikan kasih, tetapi juga keberanian untuk mengoreksi. Berikan penerimaan, tetapi juga standar yang jelas. Berikan kesempatan, tetapi juga tanggung jawab.

Dalam keluarga, pelayanan, atau pekerjaan, berikan ruang kepada generasi berikutnya untuk belajar melakukan sesuatu sendiri. Jangan terus-menerus mengerjakan semuanya untuk mereka. Biarkan mereka mencoba, belajar, melakukan kesalahan, menerima koreksi, lalu bertumbuh.

Ciptakan juga budaya yang membuat Kristus tetap menjadi pusat. Jangan membuat orang merasa bahwa mereka hanya dapat berhasil kalau selalu dekat dengan seorang pemimpin tertentu. Arahkan mereka kepada Firman, Roh Kudus, dan ketaatan kepada Tuhan.

ACTIVATE — Mulai Membentuk Satu Orang Menuju Kedewasaan

Pilih satu orang yang sudah Tuhan tempatkan dekat dengan kita dan mulailah membangunnya dengan sengaja. Jangan hanya menolong ketika ia mempunyai masalah, tetapi tanyakan juga bagian mana dalam hidupnya yang perlu bertumbuh supaya ia semakin dewasa.

Berikan satu tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuannya, dampingi prosesnya, lalu evaluasi bersama. Jika ia salah, jangan langsung mengambil semuanya kembali, tetapi ajarkan bagaimana memperbaiki kesalahan dan bertumbuh dari pengalaman tersebut.

Pada saat yang sama, pastikan hubungan itu selalu mengarahkan orang tersebut kepada Kristus, bukan kepada diri kita sendiri.

Kingdom Fathering yang sehat tidak menghasilkan anak yang terus bergantung kepada bapanya, tetapi anak yang semakin dewasa di dalam Kristus. Bapa yang benar mengasihi, membentuk, mengoreksi, memberi, dan melepaskan, supaya generasi berikutnya mampu membawa karakter Kristus, memikul warisan, dan melanjutkan pemerintahan Kerajaan Allah lebih jauh daripada generasi sebelumnya.

Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Discover more from SAMUELMULYONO

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading