Apostolic Direction: Rancangan Semula Allah Adalah Menghadirkan Pemerintahan Surga di Bumi.
Seri The Rising of Open Heaven Generations.
By PS. SAMUEL MULYONO.


Apostolic Direction: Rancangan Semula Allah Adalah Menghadirkan Pemerintahan Surga di Bumi.
Seri The Rising of Open Heaven Generations.
By PS. SAMUEL MULYONO.
Untuk memahami Injil Kerajaan dengan benar, kita tidak boleh memulai perjalanan teologi dari kejatuhan manusia, dosa, kebutuhan keselamatan, persoalan dunia, ataupun kebutuhan manusia untuk memperoleh berkat, sebab Alkitab sendiri tidak dimulai dengan manusia yang jatuh, melainkan dengan Allah yang menciptakan menurut maksud-Nya. Kejadian 1 tidak pertama-tama memperkenalkan manusia sebagai orang berdosa yang membutuhkan jalan keluar dari bumi, tetapi sebagai ciptaan yang sengaja dibentuk untuk membawa maksud Sang Pencipta ke dalam bumi. Inilah sebabnya pemulihan Kingdom Message, yaitu pemulihan berita tentang pemerintahan Allah sebagai pusat pewahyuan Alkitab, harus selalu dimulai dengan pertanyaan mengenai original intent, yaitu maksud semula Allah. Jika kita memulai dari persoalan manusia, pusat Injil dengan mudah bergeser menjadi manusia; tetapi ketika kita memulai dari maksud Allah, kita menemukan bahwa pusat seluruh kisah adalah Sang Raja, pemerintahan-Nya, kehendak-Nya, kemuliaan-Nya, dan tujuan-Nya bagi ciptaan. Karena itu, sebelum ada dosa yang harus diampuni, sudah ada Kerajaan yang harus dinyatakan; sebelum ada manusia yang harus diselamatkan dari kejatuhan, sudah ada manusia yang diciptakan untuk mewakili Allah; sebelum ada kebutuhan untuk dipulihkan, sudah ada mandat yang harus digenapi. Keselamatan karena itu bukan tujuan yang berdiri sendiri, melainkan tindakan penebusan Allah yang membawa manusia kembali kepada tujuan semula sehingga manusia yang telah diperdamaikan dengan Allah dapat kembali hidup di bawah pemerintahan Sang Raja dan berfungsi sesuai maksud penciptaannya.
Kejadian 1:26 membuka maksud itu melalui perkataan Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa.” Kata Ibrani tselem (צֶלֶם), yang diterjemahkan “gambar”, menunjuk kepada representasi atau citra yang membuat sesuatu yang tidak hadir secara langsung dapat diwakili melalui sesuatu yang terlihat, sedangkan demuth (דְּמוּת), yang diterjemahkan “rupa”, berbicara mengenai keserupaan atau kemiripan. Manusia dengan demikian tidak diciptakan untuk menjadi Allah, tetapi diciptakan sebagai representasi ciptaan yang membawa karakter, kehendak, nilai, dan otoritas Allah ke dalam bumi. Pernyataan tersebut langsung dihubungkan dengan kata radah (רָדָה), yaitu memerintah, mengatur, atau menjalankan dominion, sehingga gambar Allah tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai konsep identitas yang abstrak; gambar membawa fungsi pemerintahan. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya supaya manusia dapat mewakili bagaimana pemerintahan-Nya bekerja di dalam wilayah yang dipercayakan kepadanya. Karena itu, dominion, yaitu otoritas yang didelegasikan untuk memerintah di bawah otoritas yang lebih tinggi, tidak sama dengan domination, yaitu dominasi yang memperalat, mengontrol, atau menindas manusia lain demi kepentingan diri sendiri. Adam tidak menerima mandat untuk menjadi tiran atas sesamanya, tetapi untuk menjadi pengelola ciptaan di bawah Sang Raja. Ini menjadi prinsip fundamental DNA REIGN: kita dipanggil menjadi Gereja Apostolik yang Memerintah bukan karena kita sedang membangun kekuasaan manusia, melainkan karena kita berada di bawah pemerintahan Kristus dan membawa tatanan, kebenaran, kehidupan, keadilan, hikmat, serta karakter Sang Raja ke dalam wilayah penugasan kita.
Kejadian 1:28 kemudian memperluas mandat tersebut: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah…” Kata kabash (כָּבַשׁ), yang diterjemahkan “taklukkan”, memiliki pengertian membawa sesuatu ke bawah pengelolaan atau penguasaan sehingga wilayah yang belum tertata dapat diarahkan menuju tujuan yang benar. Dalam konteks mandat penciptaan, manusia ditempatkan sebagai administrator yang bertanggung jawab mengolah kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi di dalam ciptaan. Karena itu, mandat Kerajaan bukan mandat untuk hidup pasif, melainkan mandat untuk menghasilkan buah, memperbanyak kehidupan, mengembangkan potensi, menciptakan keteraturan, mengelola sumber daya, membangun kebudayaan, dan memperluas kualitas kehidupan yang berasal dari Allah. Dari sinilah kita memahami bahwa pekerjaan, keluarga, pendidikan, teknologi, ekonomi, seni, hukum, pemerintahan, pembangunan kota, dan seluruh bentuk kreativitas manusia seharusnya tidak terpisah dari teologi Kerajaan. Semua itu adalah wilayah di mana manusia dapat menjalankan stewardship, yaitu pengelolaan atas sesuatu yang sebenarnya dimiliki Sang Raja. Dalam Kerajaan Allah, manusia bukan pemilik absolut; manusia adalah pengelola yang dipercayai. Otoritasnya nyata, tetapi selalu bersifat delegatif. Kreativitasnya luas, tetapi tetap harus tunduk kepada karakter dan kehendak Sang Pencipta.
Kejadian 2 kemudian memperlihatkan bentuk awal dari maksud ini melalui Eden. Allah tidak membangun sebuah benteng untuk memulai pemerintahan-Nya di bumi; Ia menanam sebuah taman. Eden menjadi ruang perjumpaan antara pemerintahan Surga dan kehidupan bumi, suatu wilayah di mana manusia hidup dalam hadirat Allah, menerima pekerjaan dari Allah, mengelola ciptaan Allah, serta mengembangkan kehidupan di bawah kehendak Allah. Karena itu, Eden tidak boleh dipahami hanya sebagai taman yang indah, tetapi sebagai prototipe bagaimana wilayah bumi seharusnya berada di bawah pemerintahan Sang Raja. Dari taman itu Adam dan Hawa menerima mandat untuk beranak cucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, dan mengelolanya. Dengan kata lain, apa yang hadir di Eden tidak dimaksudkan untuk tetap terbatas pada Eden. Kehendak Allah adalah agar kualitas kehidupan, keteraturan, hadirat, nilai, dan pemerintahan-Nya semakin memenuhi bumi. Inilah yang dapat dijelaskan sebagai perluasan Kerajaan, bukan dalam pengertian kolonialisme manusia yang menggunakan kekerasan, eksploitasi, dan penindasan, tetapi sebagai perluasan pengaruh pemerintahan Allah melalui manusia yang hidup dalam keserupaan dengan Sang Raja. Kerajaan Allah tidak memperluas diri dengan memaksa manusia menjadi budak, melainkan dengan membentuk manusia menjadi pembawa sifat Sang Raja sehingga lingkungan di sekitarnya mengalami kehidupan, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, dan keteraturan.
Gagasan yang sama kemudian muncul dalam doa yang diajarkan Yesus dalam Matius 6:10, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Kata Yunani basileia (βασιλεία), yang diterjemahkan “kerajaan”, terutama menunjuk kepada pemerintahan, kekuasaan kerajaan, atau tindakan memerintah seorang raja; karena itu ketika Yesus mengajar murid-murid berdoa agar Kerajaan datang, Ia sedang mengajarkan kerinduan agar pemerintahan Allah semakin memperoleh ekspresi nyata. Kalimat berikutnya menjelaskan arti kedatangan Kerajaan tersebut: kehendak Sang Raja terjadi di bumi sebagaimana kehendak itu ditaati di Surga. Dengan demikian, doa ini adalah gema langsung dari rancangan penciptaan. Tujuan Allah bukan membangun dua dunia yang selamanya terpisah, satu dunia rohani tempat kehendak-Nya berlaku dan satu dunia bumi yang dibiarkan berada di luar pemerintahan-Nya; tujuan-Nya adalah agar bumi menjadi wilayah yang semakin mencerminkan pemerintahan Surga. Itu sebabnya berita Kerajaan selalu mempunyai implikasi kehidupan yang sangat konkret. Jika Kerajaan datang ke dalam keluarga, hubungan harus semakin mencerminkan karakter Bapa. Jika Kerajaan datang ke dalam bisnis, integritas, keadilan, produktivitas, dan stewardship harus terlihat. Jika Kerajaan datang ke dalam gereja, Kristus harus sungguh menjadi Kepala, bukan sekadar nama yang digunakan untuk melegitimasi agenda manusia. Jika Kerajaan datang ke dalam kota, kehidupan publik harus disentuh oleh hikmat, keadilan, belas kasihan, kreativitas, dan solusi yang lahir dari nilai Sang Raja.
Di sinilah salah satu koreksi terbesar terhadap cara berpikir religius harus terjadi. Kekristenan tidak boleh direduksi menjadi sistem untuk mempersiapkan manusia meninggalkan bumi, sementara sebagian besar wilayah kehidupan bumi dibiarkan berkembang menurut sistem yang tidak mengenal pemerintahan Kristus. Pengharapan akan kebangkitan, kedatangan Kristus, dan langit serta bumi yang baru tetap merupakan bagian penting dari iman Kristen, tetapi pengharapan tersebut tidak boleh menghasilkan mentalitas pelarian yang menjadikan bumi tidak penting. Yesaya 45:18 menegaskan bahwa Allah membentuk bumi untuk didiami, sedangkan Mazmur 115:16 menyatakan bahwa langit adalah milik TUHAN dan bumi telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia. Pemberian itu bukan penyerahan kepemilikan Allah, sebab Mazmur 24:1 tetap berkata bahwa bumi serta segala isinya adalah milik TUHAN; yang diberikan kepada manusia adalah wilayah tanggung jawab. Karena itu, orang percaya tidak boleh berkata, “Dunia ini akan berlalu, jadi tidak perlu dibangun,” tetapi justru harus berkata, “Karena bumi adalah milik Tuhan, aku harus setia mengelola bagian bumi yang dipercayakan kepadaku.” Spiritualitas Kerajaan tidak membuat kita meninggalkan tanggung jawab bumi, tetapi memperdalam tanggung jawab kita terhadapnya.
Habakuk 2:14 membawa mandat ini menuju cakrawala yang lebih luas ketika menyatakan bahwa bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN seperti air menutupi dasar laut. Kata Ibrani kabod (כָּבוֹד), yang diterjemahkan “kemuliaan”, berhubungan dengan bobot, kehormatan, atau beratnya keberadaan seseorang, sehingga kemuliaan Allah bukan hanya fenomena manifestasi supranatural, tetapi kenyataan tentang siapa Allah yang memperoleh pengenalan dan ekspresi. Allah menghendaki bumi mengenal seperti apa Dia; dan salah satu cara bumi memperoleh pengenalan itu adalah melalui umat yang hidup sebagai representasi-Nya. Di sinilah open heaven, yaitu terbukanya akses dan manifestasi pemerintahan Surga, tidak boleh berhenti sebagai pengalaman pribadi tentang hadirat atau manifestasi kuasa. Generasi Open Heaven harus menjadi generasi yang membawa apa yang diterimanya dari Surga ke dalam struktur kehidupan bumi. Hadirat harus menghasilkan karakter. Pewahyuan harus menghasilkan ketaatan. Kuasa harus menghasilkan pelayanan. Hikmat harus menghasilkan solusi. Pemerintahan internal Kristus harus berkembang menjadi pengaruh eksternal yang membangun.
Inilah yang dalam DNA REIGN kita pahami sebagai perjalanan menuju Dimensi Zion. Zion bukan sekadar bahasa untuk suasana ibadah yang kuat, tetapi gambaran tentang suatu umat tempat Allah memperoleh kediaman, tatanan, kesatuan, pemerintahan, dan ekspresi korporat. Eden menunjukkan manusia dalam hadirat dan mandat; Zion mengembangkan prinsip itu menjadi umat yang dibangun bersama; sedangkan Kingdom Civilization, yaitu Peradaban Kerajaan, merupakan buah ketika pemerintahan Allah tidak lagi hanya menjadi pengalaman individual tetapi mulai menghasilkan kebudayaan, hubungan, institusi, pola kepemimpinan, sistem stewardship, kreativitas, keadilan, pendidikan generasi, dan kehidupan bersama yang dapat diwariskan. Karena itu, REIGN tidak dipanggil hanya membentuk orang-orang yang mengalami Tuhan, tetapi membangun suatu Ekklesia yang mampu membawa apa yang dialami bersama Tuhan menjadi pola kehidupan. Kata Yunani ekklēsia (ἐκκλησία) menunjuk kepada perhimpunan atau komunitas yang dipanggil untuk berkumpul; dalam Perjanjian Baru istilah ini dipakai bagi umat Kristus. Dalam DNA REIGN, Ekklesia tersebut harus bertumbuh menjadi komunitas yang sungguh tunduk kepada Kepala, yaitu Kristus, sehingga sebagai satu tubuh ia mampu membawa nilai, kehendak, hikmat, dan pemerintahan Raja ke dalam penugasannya.
Karena itu, pemulihan Kingdom Message harus memulihkan ukuran keberhasilan gereja. Gereja tidak dapat lagi hanya bertanya berapa banyak orang yang datang ke sebuah pertemuan, tetapi harus mulai bertanya apakah orang-orang tersebut sedang dibentuk menjadi representasi Kristus. Kita tidak hanya bertanya apakah manusia menerima pewahyuan, tetapi apakah pewahyuan tersebut mengubah bagaimana mereka mengelola keluarga, pekerjaan, uang, waktu, keputusan, hubungan, dan pengaruh. Kita tidak hanya bertanya apakah sebuah pelayanan bertumbuh, tetapi apakah pertumbuhan itu memperbesar pemerintahan Kristus atau justru memperbesar kerajaan pribadi pemimpinnya. Kita tidak hanya bertanya apakah sebuah kota mempunyai banyak gereja, tetapi apakah kehadiran Ekklesia mulai menghasilkan kesaksian Kerajaan yang dapat dirasakan melalui keluarga yang sehat, pemimpin yang berintegritas, pengusaha yang adil, generasi muda yang memiliki purpose, orang miskin yang diperlakukan dengan martabat, serta komunitas yang menghadirkan kehidupan. Sebab Kerajaan bukan sekadar apa yang kita khotbahkan; Kerajaan adalah apa yang terjadi ketika Sang Raja benar-benar ditaati.
Generasi yang memahami rancangan semula Allah karena itu tidak akan puas menjadi penonton rohani. Mereka mengetahui bahwa keberadaan mereka di bumi mengandung assignment, yaitu penugasan Kerajaan yang harus dijalankan. Mereka memahami bahwa keselamatan memulihkan hubungan dengan Allah sekaligus memulihkan manusia kepada mandat. Mereka tidak lagi melihat pekerjaan hanya sebagai sarana mencari nafkah, keluarga hanya sebagai tempat memenuhi kebutuhan emosional, bisnis hanya sebagai mesin keuntungan, pelayanan hanya sebagai platform berbicara, atau pendidikan hanya sebagai jalan memperoleh gelar; mereka mulai melihat setiap wilayah sebagai bagian dari bumi yang harus dikelola di bawah pemerintahan Kristus. Inilah kesadaran seorang HUIOS, yaitu anak yang telah bertumbuh menuju kedewasaan dan dapat dipercayai membawa kepentingan Bapa. Seorang HUIOS tidak hanya menanyakan apa yang dapat Allah berikan kepadanya, tetapi apa yang sedang Bapa kerjakan dan bagian apa yang harus ia kerjakan bersama-Nya. Ia tidak hanya ingin menerima warisan; ia ingin menjadi orang yang dapat dipercaya mengelola warisan bagi kepentingan Sang Raja.
Karena itu, kebangkitan Open Heaven Generations yang kita nantikan bukanlah kebangkitan generasi yang hanya semakin banyak mengalami manifestasi rohani, tetapi generasi yang memahami alasan mengapa Surga dibukakan kepada mereka. Surga dibukakan supaya bumi memperoleh pola. Roh Kudus mencurahkan pewahyuan supaya manusia dapat mengetahui kehendak Sang Raja. Karunia diberikan supaya tubuh dibangun. Hikmat diberikan supaya kota memperoleh solusi. Sumber daya dipercayakan supaya mandat dikerjakan. Otoritas diberikan supaya kekacauan ditata. Kemuliaan dinyatakan supaya karakter Sang Raja semakin dikenal. Seluruhnya bergerak menuju satu tujuan: apa yang berada di dalam hati Allah memperoleh bentuk dalam kehidupan umat-Nya sampai bumi semakin dipenuhi dengan pengenalan akan kemuliaan-Nya. Dari sinilah Restoring the Kingdom Message harus dimulai. Kita tidak sedang menciptakan agenda baru bagi Allah; kita sedang kembali kepada agenda yang sudah ada di dalam hati-Nya sejak permulaan.

BUILD: Bangun Kesadaran bahwa Seluruh Hidup Saudara Berada di Bawah Pemerintahan Sang Raja.
Bangun kembali fondasi cara berpikir Saudara dengan melihat seluruh kehidupan melalui maksud semula Allah, bukan melalui kebutuhan pribadi, tradisi agama, ataupun standar keberhasilan dunia. Mulailah menempatkan keluarga, pekerjaan, bisnis, pelayanan, pendidikan, waktu, keuangan, kreativitas, hubungan, serta setiap bentuk pengaruh sebagai wilayah stewardship yang dipercayakan oleh Raja. Bangun pola hidup yang selalu bertanya bukan hanya, “Apa yang saya inginkan?” melainkan, “Apa yang Sang Raja kehendaki terjadi melalui wilayah yang dipercayakan kepada saya?” Bangun kehidupan yang tunduk kepada Firman, peka terhadap Roh Kudus, dapat dikoreksi, dan siap bertanggung jawab, sebab manusia tidak mungkin menjalankan dominion Kerajaan dengan benar sebelum dirinya sendiri berada di bawah dominion Kristus. Inilah fondasi seorang governing believer, yaitu orang percaya yang mampu membawa pemerintahan Kerajaan karena terlebih dahulu membiarkan Sang Raja memerintah pikirannya, emosinya, keinginannya, keuangannya, relasinya, dan seluruh keputusan hidupnya.
CREATE: Hadirkan Prototipe Kehidupan Kerajaan di Wilayah yang Tuhan Percayakan kepada Saudara.
Ciptakanlah ruang-ruang kehidupan yang memperlihatkan seperti apa sebuah wilayah ketika Kristus benar-benar menjadi Raja. Mulailah dari rumah dengan menciptakan budaya kasih, kehormatan, kebenaran, tanggung jawab, doa, pembelajaran, dan generational transfer, yaitu pewarisan nilai Kerajaan kepada generasi berikutnya. Di tempat kerja, hadirkan integritas, keunggulan, keadilan, kreativitas, dan pelayanan. Dalam bisnis, bangun model stewardship yang menciptakan nilai tanpa mengeksploitasi manusia. Dalam pelayanan, ciptakan budaya yang meninggikan Kristus lebih daripada figur manusia dan memperlengkapi orang untuk berfungsi, bukan bergantung. Di tengah masyarakat, hadirkan solusi yang membuat kebaikan pemerintahan Allah dapat dilihat. Jangan menunggu mempunyai pengaruh besar untuk mulai membangun Kingdom Civilization, sebab sebuah peradaban selalu dimulai dari pola-pola kecil yang terus direproduksi sampai menjadi budaya. Jadilah seperti taman yang menumbuhkan kehidupan di tanah tempat Saudara ditempatkan, sehingga Dimensi Zion tidak hanya menjadi bahasa pewahyuan, tetapi mulai memperoleh bentuk yang dapat dihuni, dirasakan, diuji, ditiru, dan diwariskan.
ACTIVATE: Serahkan Satu Wilayah Hidup Saudara Hari Ini kepada Pemerintahan Kristus dan Mulailah Menatanya Menurut Pola Surga.
Hari ini pilihlah satu wilayah yang paling nyata dalam hidup Saudara—keluarga, pekerjaan, bisnis, keuangan, jadwal, hubungan, pelayanan, atau kebiasaan pribadi—kemudian berdirilah di hadapan Tuhan dan akui bahwa wilayah tersebut bukan milik Saudara secara absolut, melainkan sebuah trust, yaitu kepercayaan dari Sang Raja. Tanyakan kepada Roh Kudus bagian apa dari wilayah tersebut yang belum mencerminkan kehendak Surga, lalu ambil satu tindakan ketaatan yang konkret pada hari ini untuk menatanya kembali. Jika ada kekacauan, mulailah membangun keteraturan; jika ada ketidakjujuran, pulihkan integritas; jika ada penundaan, mulailah bertindak; jika ada pemborosan, bangun stewardship; jika ada hubungan yang rusak, mulailah proses rekonsiliasi; jika ada potensi yang terkubur, mulai kembangkan; jika ada keputusan yang masih dikuasai ketakutan, tundukkan kembali kepada Firman dan pimpinan Roh Kudus. Jangan menunggu seluruh bumi berubah sebelum Saudara bertindak, sebab transformasi Kerajaan selalu memperoleh pintu masuk melalui manusia yang berkata, “Mulailah dari wilayah yang Engkau percayakan kepadaku.” Ketika ribuan anak Kerajaan melakukan hal yang sama di rumah, gereja, marketplace, kota, dan bangsa, pemerintahan Allah tidak lagi hanya menjadi doktrin yang dibicarakan, tetapi realitas yang memperoleh tubuh melalui Ekklesia.
“Allah tidak menempatkan kita di bumi untuk menjadi penonton yang menunggu pergi ke Surga; Ia menempatkan kita di bumi untuk hidup di bawah pemerintahan Kristus dan menghadirkan pola Surga sampai kehidupan di sekitar kita berubah.”
Leave a Reply