
Berikut ini beberapa pelajaran yang saya dapatkan ketika sedang mempelajari perjalanan bangsa israel dari perkemahan ke-14 Ritma (Daerah yang sangat dengan kadesh-barnea yg merupakan wilayah perbatasan bagian selatan dari Kanaan) ke perkemahan ke-15 yaitu Rimon-Peros.
Ketika umat israel tiba di Ritma, wilayah perbatasan kanaan (Ulangan 1:8,9,21), Allah memerintahkan mereka untuk segera manaklukkan kanaan yang adalah tanah perjanjian bagi bangsa israel. Akan tetapi respon yang dibuat oleh bangsa israel dapat kita lihat di Ulangan 1:22 yaitu mereka berketetapan hati memutuskan untuk mengambil langkah manusiawi dan tidak taat secara akurat dengan mengirimkan pengintai-pengintai, lalu mereka datang kepada Musa untuk meminta persetujuan Musa. Perlu ditegaskan bahwa Allah tidak pernah menginstruksikan pengintaian tersebut. Permintaan ini sebenarnya bersumber dari ketidakpercayaan hati yang dimiliki oleh bangsa itu.
Alhasil, ketika mereka mendengar kabar busuk yang disampaikan oleh 10 orang dari 12 orang pengintai yang diutus untuk mengintai selama 40 hari, umat Israel membantah perintah Allah dan tidak mau berjalan ke sana (Ulangan 1:26). Bahkan diceritakan mereka menangis dalam keputusasaan sepanjang malam mengenai musa dan harun, dan hendak memilih “pemimpin yang lain” yang akan membawa mereka kembali ke mesir. Bukankah ini juga yang sering dilakukan oleh orang-orang Kristen hari ini. mereka lebih mengambil keputusan untuk lari dari situasi yang mendisiplin dan membentuk mereka untuk dapat lebih tajam hanya karena siatuasi dan kondisi lingkungan tidak nyaman bagi daging mereka.
Sering sekali anak-anak Tuhan memposisikan sebagai pribadi yang keras kepala dalam ketidakpercayaan. Kita seringsekali meronta kepada Tuhan untuk diberikan arahan dan tuntunan terkait dengan apa yang kita hendak lakukan. Namun, ketika kita melihat sepertinya tuntunan tersebut tidak sesuai dengan indra jasmani kita, kita menjadi marah, kesal, kecewa dan merengek-rengek menyalahkan Tuhan.
Setiap arahan dari Tuhan, walaupun sederhana, sesungguhnya sangatlah memainkan peranan penting untuk terjadi pertumbuhan kerohanian. Namun arahan-arahan itu juga yang seringkali kita abaikan. Karena tanpa sadar, sifat dasar keras kepala dalam ketidakpercayaan membentuk kita menjadi ‘familiar’ (menganggap biasa) terhadap firman yang kita dengar. Tanpa disadari, dengan keputusan-keputusan yang kita ambil menggambarkan seolah-olah kita merasa lebih banyak tahu dari siapapun termasuk Tuhan.
Saya mendapati, dalam setiap pertumbuhan kerohanian atau juga posisi rohani yang kita masuki, pasti ada arahan lanjutan untuk kita dapat alami pertumbuhan rohani berikutnya. Respon atas arahan tersebut menentukan posisi rohani kita. Biasanya arahanNya akan selalu berkaitan dengan kematian daging dan penyerahan hak, membereskan hubungan dengan sesama, mengubah gaya hidup menjadi seturut kebenaran, dan juga memperhatikan kembali dasar-dasar kerohanian, atau bisa juga berkaitan dengan arahan penggalian firman tertentu. Prinsipnya, apapun arahanNya, bagian kita hanya TAAT saja!
Untuk kita dapat mentaati setiap arahan yang perlu kita lakukan, kita perlu menanggulangi sikap keras kepala dalam ketidakpercayaan yang masih kita miliki. Sikap keras kepala dalam ketidakpercayaan hanya dapat kita tanggulangi ketika kita terus memastikan kehadiran Roh Cinta akan Tuhan lebih lagi di hidup kita. Hanya cintalah yang sanggup mengubahkan hidup seseorang. Cintalah yang sanggup membuat orang keras kepala bisa luluh sekeras apapun. Dengan mencintai Tuhan secara utuh, kita bisa taat secara mutlak apapun dan sekalipun ada bayarannya.
Jika kita masih mengalami adanya pergolakan hati untuk taat atau tidak, hal itu menandakan sikap keras kepala belum sepenuhnya ditanggulangi dalam hidup kita. Itu juga mungki disebabkan oleh karena kadar cinta kita kepada-Nya sedang merosot. Percuma saja jika kita paksakan untuk taat tanpa hati yang mencintai-Nya, pasti akan gagal juga!
Lebih baik segeralah benahi kondisi hati kita. Minta RohNya mengobarkan hati yang mencintaiNya dalam batin kita! Saat cinta akan Tuhan menjadi tidak terbendung, saat itulah ketaatan kita pun menjadi sempurna! Apapun kondisi dan keadaannya, selama Roh Cinta akan Tuhan memenuhi kita, kita akan tetap dikenal sebagai pelaku firman! Orang lain yang terhubung dengan kita akan menerima anugerah pengenalan akan Tuhan lewat setiap interaksi dengan kita.
Salam Kegerakan! (SM)
Leave a Reply