MEMANIFESTASIKAN ROH-ROH SORGAWI
Ketika Tuhan menciptakan alam semesta, Dia telah menetapkan sebuah hukum bahwa hanya manusia yang boleh berkuasa atas segala makhluk ciptaan yang ada (Kej. 1:6). Hal ini menimbulkan satu pertanyaan dalam hati saya, “Apa yang membuat manusia seakan-akan memiliki kelebihan dibanding Tuhan di dalam dunia ini?
Alkitab jelas berkata bahwa Tuhan tidak akan bisa bergerak di muka bumi ini tanpa adanya manusia yang bisa Ia ajak bekerja sama. Doa merupakan sarana atau cara yang bisa manusia pakai untuk memberi hak kepada Tuhan untuk melakukan intervensi ilahi dalam dunia ini, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini telah dipercayakan oleh Tuhan ke dalam tangan manusia – manusialah yang berkuasa di bumi ini. Itu sebabnya jika Tuhan ingin menciptakan perubahan di sebuah bangsa, Ia harus terlebih dulu mencari orang yang bisa Dia pakai.
Ketika Tuhan menciptakan alam semesta dan Dia menaruh manusia di atas muka bumi ini untuk berkuasa, pada hakekatnya manusia adalah makhluk rohani (Kej. 1:26) dan inilah yang membuat kita menjadi istimewa. Sebagai manusia rohani, Tuhan menaruh kita di sebuah “wadah” yang bernama tubuh, supaya manusia rohaniah kita punya hak legal untuk dapat bergerak dan berkuasa di atas muka bumi ini.
Sama seperti iblis tidak akan bisa bergerak di bumi ini untuk menciptakan kerusakan dan kehancuran tanpa ada tubuh manusia yang bisa dia pakai untuk memanifestasikan kejahatannya. Pada saat yang sama, Tuhan juga “membatasi diri-Nya” – Dia tidak akan bisa bergerak di bumi ini tanpa adanya orang yang bisa Dia ajak bekerja sama.
Karena itu tubuh lahiriah kita ini menjadi semacam “properti” yang terus diperebutkan oleh Roh Kudus dengan roh-roh dunia. Karena seandainya roh-roh dunia ini bisa mengambil alih tubuh kita, dia akan bisa memanifestasikan dirinya lewat tubuh kita – dia punya hak legal untuk bergerak di atas bumi ini, menciptakan kehancuran dan menyebarkan kebencian di dunia ini. Jika kita mendedikasikan tubuh kita untuk Roh Kudus masuk dan bekerja lewat tubuh kita, maka Roh Kudus pun memiliki hak legal untuk dapat bergerak di bumi ini, menjamah sebanyak mungkin orang, melakukan berbagai mujizat, dan tidak ada yang dapat menghalangi-Nya.
Itu sebabnya dalam Roma 12:2, secara spesifik Paulus memberikan dorongan kepada seluruh jemaat Tuhan, “Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Apa maksudnya? Secara rohaniah, ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, roh kita sudah lahir baru. Tapi yang seringkali menjadi permasalahan, tubuh kita ini belum sepenuhnya kita tundukkan dan dedikasikan untuk “dikuasai oleh Roh”.
Itu sebabnya dalam hidup sehari-hari ada banyak orang-orang percaya yang masih terus memanifestasikan roh-roh dunia. Yak. 4:1 Yakobus sedang menulis surat kepada orang-orang percaya, bukan orang luar. Artinya, ada orang-orang percaya yang sedang mengalami persengkataan/pertengkaran dan kita tidak mungkin bertengkar di dalam roh; jika kita bertengkar, pertengkaran itu pasti terjadi secara fisik. Lalu mengapa bisa terjadi persengketaan di tengah-tengah jemaat? Karena masih banyak orang percaya yang tanpa mereka sadari mengijinkan roh-roh dunia memakai tubuh mereka untuk memanifestasikan dirinya.
Galatia 5:19-21a berkata, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan,.. dan sebagainya.” Kata ‘dan sebagainya’ dalam ayat 21 artinya masih ada banyak yang lain. Kembali ke Yak. 4, kita mendapati ada persengketaan, ada pertengkaran, dan ada hawa nafsu di sana – ini semua adalah manifestasi dari roh dunia seperti yang kita baca dalam Galatia 5.
Yak. 4:1b berkata, “…bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang dalam tubuhmu.” Kata “saling berjuang” di sana memiliki arti “terus berebutan”. Sadari, tubuhmu adalah “properti” yang terus diperebutkan antara roh-roh dunia yang ingin memanifestasikan diri elwat tubuhmu dengan Roh Kudus yang seharusnya punya hak penuh untuk memanifestasikan diri lewat tubuhmu.
Masih dalam Yak. 4:2, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh” (ini juga adalah manifestasi dari roh dunia lewat tubuh kita). Roh pembunuhan tidak akan bisa membunuh seseorang jika tidak ada orang yang bisa dia manfaatkan untuk memanifestasikan nature dari pembunuhan, yaitu membunuh.
Sebagaimana ada berbagai macam roh dunia, Roh Kuduspun ketika akan memanifsetasikan diri kepada kita memiliki berbagai ragam manifestasi – ada roh hikmat, roh nasehat, roh yang membangkitkan kekuatan, roh kasih.
“Kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi” (Yak. 4:2) – tanpa kita sadari, karena kita sudah terbiasa hidup dalam pengaruh dan kendali dunia ini, ketika kita sudah bertobat, walaupun kita bisa menyembah Tuhan, secara manusiawi tubuh kita masih terus kita serahkan kepada roh-roh dunia untuk mereka bisa memanifestasikan diri lewat tubuh kita. Sehingga bahkan ketika kita rindu untuk meraih hal-hal ilahi/hal-hal rohani, kita masih terus mempergunakan cara-cara manusiawi. Itu sebabnya dalam Roma 12, setelah dalam ayat 1 Paulus berkata “persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah…”, dalam ayat 2 Paulus berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…”
Dengan kata lain Paulus menyuruh kita untuk mempersembahkan tubuh kita, agar Tuhan bisa memakai tubuh kita untuk memanifestasikan diri-Nya dalam dunia ini; tapi untuk kita bisa dengan sukses mempersembahkan tubuh kita dan Roh Kudus bisa memanifestasikan dirinya dengan leluasa lewat tubuh kita, pastikan kita mengalami proses pembentukan ulang. Pastikan segala sesuatu yang ada dalam diri kita bukan merupakan hasil pembentukan dunia ini lagi, karena jika kita masih terus merupakan produk dari dunia, kita akan terus memanifestasikan roh-roh dunia, karena roh dunia merasa punya hak atas tubuh kita.
Proses pembentukan yang seperti apa? “…tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Dengan kata lain, pergunakan firman. Selama kita bisa memastikan kita hidup dalam firman – kita hidup hanya dari firman-Nya, proses pembentukan akan terus terjadi dalam hidup kita – kita “dicetak ulang”; kita tidak akan menjadi sama seperti dunia ini atau bahkan seperti kita baru pertama kali bertobat, karena ada sesuatu yang berbeda yang mulai terjadi dalam hidup kita.
Apa perbedaan yang akan kita nikmati ketika kita terus alami proses pembentukan ulang oleh firman-Nya dan bagaimana sebetulnya proses pembentukan ulang oleh firman itu terjadi dalam diri kita?
“Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” (Yoh. 6:63)
Yesus menegaskan, setiap firman/perkataan yang Dia sampaikan adalah roh dan hidup. Kata “roh” di sana dituliskan dengan huruf “r” kecil, yang artinya bukan Roh Kudus tapi sebuah dimensi rohani. Sebagai contoh: ketika sekali waktu Anda terbangun di tengah malam, kadangkala Anda bisa merasakan suatu perasaan takut yang tidak Anda ketahui asal-muasalnya, tapi perasaan takut itu membuat bulu kuduk Anda berdiri. Apa sebetulnya yang terjadi? Ada roh ketakutan yang mendekati Anda. Karena kita adalah manusia roh, kita memiliki kesensitifan untuk mendeteksi hadirnya roh ketakutan. Sebagai efeknya, emosi kitapun mulai merasakan nature dari roh ketakutan tersebut – kita merasa takut.
Demikian pula ketika kita sedang berdoa dan menyembah Tuhan dan kita merasakan hadirnya roh sukacita dan sorak-sorai mendekati kita, secara otomatis kita mulai merasakan adanya gelora sukacita yang meluap dalam roh kita. Yesus berkata, “Perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh..” Apa maksudnya? Artinya ada dimensi rohani dari firman yang Dia ucapkan kepada kita.
Ketika Dia berfirman, “Jangan takut”, sesungguhnya di dalam perkataan yang Tuhan ucapkan itu ada sebuah dimensi rohani yang menenangkan/menentramkan, sehingga kita tidak perlu bergumul untuk tidak takut tapi tiba-tiba kita merasa tidak takut lagi. Alasan mengapa bahkan setelah kita menerima firman “Jangan takut” kita masih merasa takut adalah karena tanpa kita sadari, kita hanya sekedar menerima firman tapi kita tidak mengakses dimensi rohani yang terkandung di dalam firman itu.
Apa dimensi rohani yang terkandung dalam perkataan Tuhan “Jangan Takut” tersebut? Roh ketenangan, roh damai sejahtera. Alasan kenapa kita masih terus takut adalah karena kita sedang memanifestasikan roh ketakutan dan bukannya mengakses dimensi roh yang ada di balik firman “jangan takut” itu. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengundang roh damai sejahtera dan roh ketenangan, maka ketakutan akan hilang dengan sendirinya.
Dimensi rohani yang ada dalam firman yang Tuhan beri akan membuat kita semakin diperlengkapi, semakin diubahkan, semakin diperbaharui, sehingga kita tidak akan menjadi manusia yang duniawi dan lahiriah – kita dibangkitkan menjadi manusia roh yang terus diperbaharui dalam hadirat Tuhan; kita menjadi manusia roh yang terus bertumbuh dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih.
Dunia telah melatih kita untuk selalu mempergunakan logika, sementara Tuhan ingin terus melatih kita untuk memanfaatkan logika dengan cara yang selaras dengan firman-Nya. Dunia melatih kita untuk menjadikan logika sebagai “saringan”, sehingga jika apa yang kita dengar dari Tuhan tidak masuk dalam logika kita, artinya itu bukan dari Tuhan, padahal Tuhan memberikan logika kepada kita bukan untuk menghalangi diri-Nya sendiri tapi justru supaya kita bisa “mempertajam” apa yang Roh Kudus ingin kerjakan.
Tanpa saya mempersembahkan logika saya kepada Tuhan untuk Dia pakai, saya tidak akan bisa berkata-kata dan menjelaskan kepada Anda tentang hal-hal rohani/ilahi. Ketika saya mempersembahkan logika saya kepada Tuhan dan Roh Kudus mengambil alih logika saya, Dia jadi punya kesempatan untuk menjelaskan kepadamu hal-hal yang secara manusiawi sulit atau bahkan mustahil untuk dipahami.
Selama kita menjadikan firman sebagai patokan berpikir kita dan dalam kita membangun hidup sehari-hari, kita seperti sedang mencetak ulang hidup kita ini untuk selaras dengan firman, sehingga perubahan akan mulai terjadi. Karena itu belajarlah untuk mengimajinasikan setiap firman yang engkau terima dari Tuhan; bayangkan firman itu sedemikian rupa sampai emosimu mulai ikut bergelora. Mengapa kita harus membayangkan firman sampai emosi kita ikut bergelora? Karena itu menunjukkan bahwa firman mulai bekerja dalam hidupmu dan menghasilkan perubahan dalam dirimu.
“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.” (Roma 8:9-10)
Ketika Yesus berkata “perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup”, artinya di dalam perkataan yang Yesus ucapkan terkandung kehidupan ilahi/kehidupan Allah. Kata “hidup” itu sendiri seringkali diterjemahkan dalam dua kata Yunani yang berbeda, yaitu “bios” dan “zoe”. “Bios” adalah kehidupan semu atau kehidupan yang manusiawi; dari kata “bios” kita mendapat kata “bioskop” – sesuatu yang kelihatan nyata tapi seberulnya tidak. “Zoe” adalah kehidupan Allah/kehidupan kekal; inilah kata yang digunakan oleh Yesus ketika Dia berkata, “Perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”
Ketika kehidupan Allah ini ‘disuntikkan’ masuk ke dalam hidup kita lewat firman yang Tuhan berikan, kehidupan Allah inilah yang akan mencipta ulang dan mengubahkan roh manusiawi kita yang dalam 1 Kor. 15 disebut sebagai “makhluk hidup”, mengalami perubahan menjadi “roh yang menghidupkan”.
Roma 8:10 berkata bahwa tubuh lahiriah kita memang akan terus mengalami degradasi dan penuaan sehingga kita bisa menjadi lemah atau sakit, dan itu adalah efek dosa, tetapi roh (yaitu roh kita) adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Setiap kali membuka hidup kita untuk menerima firman yang dari Tuhan dan kita mulai mengimajinasikan firman sedemikian rupa, sampai emosi kita ikut bergelora, Alkitab berkata bukan hanya dimensi rohani yang masuk dalam hidup kita tapi juga kehidupan Allah yang “disuntikkan” masuk dalam roh kita.
Semakin kita menerima kebenaran-Nya, semakin roh kita menjadi kehidupan. Secara lahiriah, semua manusia akan semakin bertambah tua, bertambah lemah, dan pada akhirnya mati. Tapi ketika kita terus menyuntikkan kehidupan Allah masuk dala hidup kita dan roh kita mulai menjadi kehidupan, artinya proses penuaan, proses kemerosotan dan proses kematian yang lazimnya terjadi pada banyak orang – karena kita memiliki roh yang adalah kehidupan – akan bisa diperlambat.
Akan tetapi tidak berhenti sampai di situ; Roma 8 11 berkata, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang diam di dalam kamu.”
Hari ini aku nubuatkan, di dalam nama Yesus, apapun kondisi fisikmu saat ini, Roh akan tercurah dan menguasaimu dan menghidupkan tubuhmu yang fana. Engkau akan mulai menikmati kehidupan yang sepenuhnya; mungkin dulu engkau pernah alami tubuhmu dirusak oleh narkoba dan dosa, tapi ketika engkau terus menyuntikkan dirimu dengan kebenaran dan engkau mengkondisikan dirimu selalu dikuasai oleh Roh-Nya, maka Roh yang membangkitkan Yesus akan menguasaimu dan membangkitkan tubuhmu! Terimalah roh iman, terimalah roh pengharapan untuk pemulihan fisikmu; apapun kondisi fisikmu, engkau disembuhkan, engkau terima mujizat, engkau dipulihkan sepenuhnya.
Masih belum selesai di situ, 1 Kor. 15:45-50 berkata, “Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,” tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.”
Lebih lanjut ayat 51 dan seterusnya berkata, “Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.”
Banyak orang menerjemahkan ayat ini sebagai kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan bumi akan kiamat, orang-orang mati akan dibangkitkan, dan kita semua diubahkan – ini adalah penafsiran yang pertama, tapi saya memiliki penjelasan yang lebih tentang ayat ini bagi Anda.
Bagi Anda yang hidup di dalam Roh, ketika seorang malaikat Tuhan diutus kepadamu untuk meniupkan sangkakalanya – malaikat Tuhan selalu berbicara tentang pemimpin rohani, dan pemimpin rohani itu diutus keluar dari hadirat Tuhan untuk mendeklarasikan apa yang menjadi pesan Tuhan. Ketika pesan Tuhan dideklarasikan, hanya ada 2 hal yang akan terjadi: orang-orang yang mati (rohnya) akan dibangkitkan, dan bagi engkau yang sudah hidup di dalam Roh, engkau akan diubahkannya. Diubahkan menjadi apa?
Ayat 53 berkata, “Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” Engkau akan diubahkan untuk tidak lagi hidup sebagai makhluk lahiriah tetapi untuk mulai berfungsi sebagai makhluk sorgawi; tidak lagi mengandalkan kekuatan manusiawimu tetapi mengandalkan kekuatan Roh-Nya.
Perhatikan ayat 54, “Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan.” Setelah engkau sungguh-sungguh hidup di dalam Roh-Nya dan Roh Kudus berkuata atasmu, engkau bukan hanya akan mengalami masa penuaan pada fisikmu dihambat dan dihentikan oleh Tuhan tapi bahkan engkau memiliki otoritas untuk menahan kematian. Maut boleh mendekati kita tapi kita punya otoritas untuk menolak maut dan kematian itu.
Karena Ibrani 9:27 berkata, “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja..”. Artinya, kalau kita sudah mengalami kematian dari daging kita – kita sudah mengalami kematian yang “satu kali” itu, maut dan kematian tidak berkuasa lagi atas kita; kita bisa berkata, “Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut telah dipatahkan!”
Sekali waktu dalam kitab Kisah Para Rasul, Alkitab menceritakan bagaimana Paulus diseret oleh orang-orang Yahudi ke luar kota dan dilempari batu sampai mati. Menurut sejarah, setiap kali orang Yahudi merajam seseorang, mereka akan memastikan bahwa orang tersebut sudah betul-betul mati baru kemudian mereka meninggalkan mayatnya begitu saja. Tetapi ketika murid-murid Paulus mendekati mayat Paulus, tiba-tiba Paulus bangun dan mengebaskan debu dari bajunya dan ia langsung melanjutkan perjalanan pelayanan; itu sebabnya dalam 1 Korintus Paulus bisa berkata, “Maut telah ditelan dalam kemenangan-Nya.”
Sebagaimana Yesus sudah bangkit dan menaklukkan kematian, jika Roh kebangkitan itu tinggal dalam tubuhmu, Roh kebangkitan itu akan membuat tubuhmu yang fana itu tetap hidup. Dalam kitab Filipi, Paulus pernah diperhadapkan dengan dua pilihan: tinggal bersama dengan Kristus atau hidup dalam dunia ini. Paulus menyadari, jika dia hidup, dia akan berguna bagi jemaat dan oleh sebab itu dia memilih untuk hidup.
Pada saat Paulus menuliskan surat kepada jemaat Filipi, Paulus sedang diasingkan oleh Roma. Sebagai tawanan, sewaktu-waktu Roma bisa membunuh Paulus, akan tetapi sampai pada hari Paulus menulis surat tersebut pun eksekusi belum terjadi. Siapa yang akan bisa menahan eksekusi jika bukan intervensi/campur tangan Tuhan? Karena bahkan Paulus sempat menuliskan kepada Timotius, “Aku telah mencapai garis akhir, aku telah menyelesaikan pertandingan dengan baik”. Apa maksudnya? Dengan kata lain ia berkata, “Karena aku sudah menyelesaikan tugasku, aku siap untuk mati.”
Yesus tergantung di kayu salib 6 jam lamanya, padahal malam sebelumnya Ia disiksa dan dianiaya sampai rusak badan-Nya. Tidak satupun manusia yang akan sanggup bertahan mengalami penderitaan yang Yesus alami, tapi tidak ada kematian yang bisa merenggut nyawa Yesus sampai Dia berkata, “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
Sebelum Yesus menyadari bahwa semua tugas-Nya sudah selesai dan Dia berkata, “Sudah genap”, maut tidak berkuasa atas Yesus. Alkitab menyebutkan bahwa Dia adalah saudara sulung kita, artinya kita mewarisi DNA rohani yang sama. Karena itu jangan pernah menyerah kepada maut sebelum tugasmu selesai, karena engkau punya kuasa untuk berkata, “Aku menolak maut” dan maut harus mendengarkan engkau. Aku berdoa, takaran iman ini akan Tuhan curahkan atas setiap kita.
Be Blessed.
Message by Ps. Steven Agustinus (Alliance of Breakthrough City Church)
edited by Samuel M
Leave a Reply