PERANAN POSISI ROHANI UNTUK MELAKUKAN TAKE OVER

8–11 minutes

read

Tuhan adalah Allah yang empunya langit, bumi dan segala isinya, dan Dia berkenan memberikan apa yang Ia miliki tersebut kepada orang-orang percaya, agar setiap orang percaya akan dapat Ia pakai untuk mengelola apa yang ada dalam dunia ini, sehingga Kerajaan sorga akan dapat diperluas lewat hidup mereka – itulah esensi utama dari “Cross Over and Take Over”. Tuhan akan membawa kita menyeberangi segala sesuatu yang sifatnya manusiawi, agar kita dapat memasuki apa yang ilahi, sehingga ketika kita mulai hidup dalam keilahian-Nya, Dia akan bisa mulai mempercayakan kepada kita beberapa aspek kehidupan untuk kita kelola. Mungkin aspek-aspek kehidupan tersebut sampai saat ini masih berada di tangan orang-orang fasik, namun tidak berapa lama lagi Dia akan segera menaruhnya di tangan kita. Karena itu, Tuhan menghendaki agar kita terus mempersiapkan hidup kita dan bertumbuh dalam posisi rohani yang Dia sudah sediakan bagi setiap kita.

          Posisi rohani sangat dibutuhkan untuk kita dapat melakukan pengambilalihan dalam setiap sisi kehidupan yang Tuhan percayakan untuk kita ambil alih. Tanpa kita – baik sebagai hamba-hamba Tuhan maupun sebagai jemaat – terus bertumbuh dalam posisi rohani, kita tidak akan melihat pengambilalihan terjadi sepenuhnya. Karena ketika posisi rohani kita terus bertumbuh, secara otomatis intervensi ilahi yang kita butuhkan dalam melakukan pengambilalihan tersebut akan mulai terjadi dalam hidup kita.

          Berikut ini adalah beberapa prinsip firman tentng posisi rohani:

1.     Pada saat kita bertumbuh di dalam roh dan memasuki posisi rohani yang sudah Tuhan tetapkan, pada saat itulah kita akan mulai melihat terjadinya berbagai intervensi ilahi dalam hidup kita.

 

“Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN” (Yes. 54:1)

    

     Pernyataan di atas adalah pernyataan yang Tuhan sendiri berikan kepada orang-orang Israel. Pertanyaannya adalah: mungkinkah si mandul bersorak sorai? Secara manusiawi itu tidak mungkin terjadi!. Seorang wanita yang sudah dideteksi mandul oleh dokter jelas membutuhkan mujizat untuk dapat melahirkan seorang anak. Apalagi jika wanita yang dideteksi mandul tersebut belum bersuami! Akan tetapi, Alkitab justru memerintahkan si mandul tersebut untuk bersorak sorai karena ia akan melahirkan anak yang lebih banyak dari pada mereka yang bersuami.

     Apa maksud ini semua? Maksudnya adalah: ketika intervensi ilahi mulai terjadi dalam hidup seseorang, pada saat itulah apa yang tampaknya mustahil secara manusiawi tidak lagi mustahil bagi orang yang bersangkutan. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu; ketika intervensi ilahi terjadi, segala sesuatu yang mustahil akan mulai terjadi dalam hidup Anda.

     Akan tetapi, kembali ke Yesaya 54, untuk si mandul bisa bersorak-sorai karena apa yang Tuhan firmankan tersebut, ada sesuatu yang harus dialami oleh si mandul terlebih dahulu. Seseorang yang dideteksi mandul pasti akan mengalami keputusasaan dan sulit untuk bersorak-sorai, kecuali ia bisa mulai melihat jauh melampaui segala keterbatasan yang ada dalam hidupnya. Ketika si mandul mulai bisa melihat bagaimana janji Tuhan tergenapi, pada saat itulah di dalam dirinya akan mulai bangkit suatu kekuatan rohani yang memberinya kemampuan untuk bersorak-sorai.

     Ketika kita mulai memiliki sebuah kemampuan untuk bisa melihat dalam roh bagaimana janji Tuhan tentang mengambil alih semua yang Ia sudah sediakan terjadi, maka di dalam diri kita akan mulai bangkit sebuah kekuatan rohani yang memampukan kita untuk bersorak-sorai, membuat takaran iman kita bertumbuh, sehingga kita akan dapat berkata, “Sungguh, inilah yang pasti akan terjadi!”

     Karena itu, teruslah belajar untuk bertumbuh di dalam roh, karena tanpa kita terus bertumbuh di dalam Roh-Nya, kita tidak akan pernah bisa memiliki kemampuan untuk melihat melebihi pandangan manusiawi kita. Hanya ketika kita terus bertumbuh di dalam Roh, maka apa yang kita lihat dengan mata jasmani kita tidak lagi mempengaruhi kita. Sebaliknya, apa yang kita lihat dengan mata rohani kitalah yang akan terus berbicara kepada kita.

     Sesungguhnya, sekalipun kita adalah orang yang baru bertobat, kita sudah memiliki iman yang kuat. Pertanyaannya adalah: iman yang kuat tersebut kita pakai untuk mempercayai “siapa”? Jika kita mempergunakannya untuk mempercayai Tuhan, maka keilahian demi keilahian akan terus terjadi atas kita – kita akan berkali-kali alami terobosan dan intervensi ilahi. Akan tetapi, jika iman yang kuat tersebut kita pakai justru untuk mempercayai apa yang kita lihat dan dengar secara manusiawi, kita akan tetap lemah. Karena apa yang manusiawi tersebut, ketika kita percayai dan yakini, justru akan terus menahan kita.

     Secara manusiawi, kita mungkin sering mengalami kesulitan untuk mempercayai apa yang Tuhan firmakan, namun seiring dengan Tuhan membawa kita untuk terus bertumbuh di dalam Roh-Nya, mempercayai setiap firman yang Dia katakan tidak akan menjadi sebuah kesulitan lagi bagi kita. Selama kita bisa terus bertumbuh, sehingga secara terus menerus kita bisa meyakini apa yang Tuhan firmankan kepada kita, saat itulah kita memasuki sebuah posisi rohani yang baru dalam hidup kita.

     Sesungguhnya setiap kali Tuhan berfirman kepada kita, bersama dengan firman tersebut ada sebuah posisi rohani yang baru Ia sediakan bagi kita. Pada waktu kita berkata ‘ya’ kepada firman-Nya dan dengan konsisten kita terus memegang dan mempercayai firman-Nya, saat itulah kita memasuki dimensi yang baru tersebut. Pada saat yang sama juga, seperti ada suatu kemampuan yang tiba-tiba muncul di dalam diri kita – terjadi impartasi roh dalam hidup kita – sehingga kita bisa selalu “bersorak-sorai”.

     Saya percaya, ada banyak janji yang Tuhan pernah berikan kepada Anda yang masih belum akan Anda nikmati, sampai Anda memasuki posisi rohani yang seharusnya. Dalam Galatia 4:1-7, Alkitab berkata bahwa pada hari kita bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidup kita, seketika itu juga kita menerima roh adopsi – kita disebut sebagai anak. Dengan kata lain, kita juga adalah ahli waris; apa yang Dia miliki, itulah yang akan kita miliki juga. Ketika Tuhan berkata Dialah yang empunya bumi dan segala isinya (Mzm. 24:1), itu berarti bumi dan segala isinya juga adalah milik kita.

     Kalau sampai hari ini kita belum menikmati apapun juga, itu disebabkan karena kita masih belum “akil balig” – kita belum cukup umur secara rohani karena kita belum bertumbuh secara maksimal. Untuk kita bertumbuh, kita hanya perlu menjaga diri kita tetap sehat. Jika kita memperhatikan seorang anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan, selama kita bisa menjaga anak tersebut tetap sehat dan menerima asupan makanan yang bergizi,  secara otomatis ia akan bertumbuh dengan sendirinya.

     Demikian pula ketika kita mempergunakan setiap firman yang sudah kita terima untuk membuat kita terus mengalami pertumbuhan, secara otomatis pertumbuhan yang terjadi tersebut akan membawa kita memasuki posisi rohani yang baru. Karena itu, pastikanlah kita selalu bertumbuh dalam Roh-Nya dan pastikan kita selalu tinggal dan hidup dalam dimensi rohani yang Tuhan sudah sediakan bagi setiap kita; itulah kunci yang akan membuat kita selalu mengalami intervensi Tuhan. Dengan kita memasuki posisi rohani baru yang Tuhan sudah sediakan bagi kita, apa yang secara manusiawi mustahil untuk terjadi, bagi kita itu menjadi sesuatu yang pasti.

 

2.     Pada saat kita memasuki posisi rohani yang Tuhan sudah persiapkan, ketika itulah apapun tindakan natural yang kita lakukan akan menghasilkan dampak yang supranatural.

 

“Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.” (Wahyu 12:5)

 

     Ketika Gereja terus bertumbuh di dalam Roh, pada saat itulah Gereja akan mulai melihat terciptanya rahim profetis. Dengan demikian, Tuhan memiliki keleluasaan untuk bergerak di tengah kita dan untuk kemudian menanamkan apa yang menjadi isi hatinya. Pada saat yang sama, kita sebagai jemaat memiliki keterbukaan untuk meresponi apapun yang Tuhan rencanakan itu. sebagai akibatnya, sebagai satu jemaat kita mulai hidup dalam rencana-Nya.

     Yang dimaksud oleh Alkitab dengan “seorang perempuan yang akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi” adalah orang-orang percaya/jemaat yang meresponi kehendak dan rencana Tuhan lalu bangkit dalam kuasa Roh, sehinga mereka pun mulai diposisikan Tuhan sebagai orang-orang yang berpengaruh, terpandang, dan disegani di masyarakat.

     Ketika Tuhan mulai memposisikan kita menjadi orang yang disegani, terpandang, dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi banyak orang, pada saat itulah apapun yang kita lakukan secara manusiawi akan membuat Tuhan memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ilahi. Lewat apa yang kita kerjakan secara natural, Tuhan akan memanifestasikan kesupranaturalan-Nya.

     Begitu Tuhan mulai memunculkan kita sebagai orang yang berpengaruh, yang terpandang dan disegani di masyarakat, maka dengan sendirinya, keberadaan kita tersebut ketika mulai dikaitkan dengan Gereja Tuhan, akan membuat Gereja diterima oleh masyarakat luas.

    

“Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” (Wahyu 12:6)

    

     Ayat di atas berbicara tentang dimensi rohani yang Tuhan sediakan bagi Gereja-Nya, dan ketika Gereja ada di dalam dimensi rohani tersebut, Gereja akan terpelihara.

Dimensi rohani ini sendiri tercipta karena Gereja telah memunculkan orang-orang yang disegani, yang terpandang, dan yang berpengaruh di masyarakat, dan yang memelihara Gereja Tuhan dalam dimensi rohani tersebut sesungguhnya bukan lagi Tuhan, tetapi Tuhan memakai orang-orang yang sudah dimunculkan Gereja sebagai orang berpengaruh, terpandang dan disegani tersebut untuk memelihara Gereja.

     Dalam terjemahan New King James, ayat di atas berbunyi, “Perempuan itu lari ke padang gurun….agar mereka dapat memelihara dia di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.” Siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “mereka”? “Mereka” itulah orang-orang percaya yang sudah dimunculkan menjadi orang berpengaruh, terpandang, dan disegani di masyarakat, dan mereka memanfaatkan relasi, posisi, dan hak istimewa yang mereka miliki sebagai orang yang berpengaruh, terpandang dan disegani di masyarakan untuk menjaga agar Gereja tetap berfungsi dan menyelesaikan kehendak Tuhan. Secara otomatis, keberadaan Gereja akan dapat diterima oleh masyarakat luas, sehingga lewat Gereja, apapun yang kita kerjakan secara natural akan membuat Tuhan ikut campur tangan secara supranatural.

      

“Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.” (Wahyu 12:7-8)

 

     Ketika kita terus bertumbuh di dalam Roh, maka apa yang selama ini diduduki dan dikuasai oleh si jahat akan bisa kita ambil alih sepenuhnya karena kita telah menjatuhkan dan menyingkirkan si jahat. Dengan demikian, apa yang kita kerjakan secara natural akan mengakibatkan terjadinya peperangan di alam roh, karena kebenaran yang kita hidupi akan membuat kita berhasil, dan keberhasilan yang kita capai dengan cara yang bersih tersebut akan membuat orang-orang lain di sekeliling kita yang selama ini berjalan dalam kefasikan mulai merasa “terganggu”. Beberapa dari mereka bahkan akan mulai seperti “ditarik” untuk meninggalkan jalan kefasikan mereka untuk mulai berjalan dalam kebenaran yang selama ini kita hidupi.

 

3.     Posisi rohani dalam hidup kita ditentukan oleh bagaimana Tuhan berurusan dengan kehidupan kita secara pribadi.

     Cara Tuhan berurusan dengan kita secara pribadi akan sangat menentukan pertumbuhan posisi rohani kita. Ketika kita membuka hati dan mengijinkan Tuhan berurusan dengan kita, merombak hidup kita dan memastikan kebenaran berkuasa dalam diri kita sepenuhnya, pada saat itulah kita akan melihat posisi rohani kita bertumbuh. Dan semakin kita bertumbuh dalam posisi rohani kita, akan semakin mudah bagi kita untuk meraih dan mewujudkan sesuatu. 

 

message delivered by Ps. Steven Agustinus – Alliance of Breakthrough City Church (edited by Samuel M)

See and download the full gallery on posterous

Posted via email from Samuel Mulyono’s posterous

Leave a Reply

Discover more from SAMUELMULYONO

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading