Kondisi yang sama juga banyak terjadi di antara orang-orang Kristen pada hari-hari ini; ada banyak orang Kristen yang setelah lahir baru, tanpa sadar mulai menggabungkan antara Kekristenan yang sejati – yaitu hidup oleh Roh, mengikuti tuntunan Roh untuk memanifestasikan Kristus secara nyata – dengan kebiasaan gerejani atau kehidupan keagamawian.
Itu sebabnya dalam ayat 1 Paulus memerintahkan jemaat Ibrani untuk memperhatikan cara mereka mendengar agar mereka tidak hanyut oleh arus. Yang dimaksud di sini bukanlah arus keduniawian tetapi arus keagamawian, karena orang-orang yang terbawa oleh arus keagamawian akan terus menjalani kehidupan Kekristenan mereka tanpa pernah mengalami realita Kristus dalam kehidupan sehari-harinya.
Jika kita memperhatikan kitab Ibrani dari pasal pertama, Paulus terus menjelaskan kepada jemaat Ibrani perbandingan antara Kekristenan yang sejati dengan Kekristenan yang agamawi. Salah satu penekanan yang Paulus terus sampaikan adalah mengenai hati nurani yang murni. Ketika kita membuka diri dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menjadi ciptaan yang baru; sejak saat itu juga sebetulnya kita memiliki hati nurani yang murni. Sebagai ciptaan yang baru, artinya kitapun harus mulai menjalani kehidupan yang baru dan berbeda.
Sebagai manusia lama, hidup kita telah banyak dipengaruhi oleh apa yang kita dengar, lihat, ataupun rasakan di sekeliling kita. Sebagai akibatnya, kita menjadi mudah terombang-ambing oleh emosi manusiawi. Akan tetapi sekarang semua itu tidak perlu terjadi lagi, karena kini kita hidup sebagai manusia yang baru; kita tidak boleh lagi hidup berdasarkan panca indera kita – kita harus belajar hidup dari hati nurani kita.
Karena itu, kita harus selalu menjagai hati nurani kita agar tetap murni; ketika kita memiliki hati nurani yang murni, ada beberapa hal yang akan kita alami:
- Dengan memiliki hati nurani yang murni, kita memiliki akses untuk dapat masuk dalam hadirat Tuhan secara leluasa. (Ibr. 4:14-16)
- Dengan memiliki hati nurani yang murni, kita selalu memiliki kehidupan sehari-hari yang selalu layak dan memperkenan hati-Nya.(Ibr. 10:14-23)
- Dengan memiliki hati nurani yang murni, kita jadi terhubung pada kesetiaan Tuhan.(Ibr. 10:32-39)
- Dengan memiliki hati nurani yang murni, kita memiliki unsur yang paling penting dan paling mendasar untuk terjadinya pertumbuhan iman.(Roma 1:16-18)
- Dengan memiliki hati nurani yang murni, kita memiliki keyakinan yang teguh bahwa doa-doa kita sanggup menggerakkan Tuhan. (1 Yoh. 3:19-24, Yoh.15:7)
Pertanyaannya adalah, bagaimana jika hati kita sudah terlanjur tercemar oleh berbagai hal atau karena kita tidak mengikuti tuntunan suara hati nurani kita? Sebenarnya, ketidaktaatan kita terhadap tuntunan hati nurani sama saja artinya dengan menaati tuntunan roh-roh dunia dan memposisikan diri kita menjadi sahabat dunia dan musuh Allah (Yak. 4:4-10). Itu sebabnya kita merasa tidak layak menghadap hadirat-Nya, merasa doa-doa kita tidak dijawab dan merasa terintimidasi.
Namun lepas dari semua itu, Dia adalah Allah yang penuh anugrah. Ketika hati nurani kita menuduh kita, segeralah ambil langkah pertobatan (ay. 6b), karena tanpa kita bertobat dan kembali mengikuti tuntunan hati nurani kita, kita justru sedang menarik diri keluar dari perlindungan darah Kristus. Tanpa sadar, kita justru ‘melibatkan’ iblis masuk dalam kondisi yang sedang kita hadapi (ay. 7) dan memperparah kondisi yang ada.
Oleh sebab itu, ketika hati nurani kita menuduh kita, jangan kabur, lari ataupun berdalih; mendekatlah kepada Allah (ay. 8) dan bertobatlah dari tindakan apapun yang telah kita lakukan yang memposisikan kita menjadi musuh Allah. Ketika kita melakukan hal ini dengan serius (ay.9), tangan Tuhan yang perkasa akam kembali meninggikan kita dan melayakkan kita untuk masuk dalam hadirat-Nya (ay. 10).
Inilah KUASA PENEBUSAN yang sesungguhnya!
Message by Ps. Steven Agustinus, Alliance of Breakthrough City Church
Edited by Samuel Mulyono.
Leave a Reply